Catatan Seorang Santri

 Pertanyaan tentang cita-cita seorang anak, acapkali ditanyakan oleh para orangtua. Entah itu sekedar basa basi atau salah satu strategi orang tua dalam menyiapkan segala kebutuhan anaknya tercinta dimasa depan. Tak beda dengan diriku. Beberapa kali aku membayangkan masa depan yang sebenarnya tak perlu di risaukan, karena masa depan bukanlah wewenang kita, dan kita tidak bisa memastikan masa depan anak-anak kita. Semua sudah ada yang ngatur. 

Mengirimkan anak-anak ke pondok pesantren, memang menjadi keinginanku sejak mereka terlahir kedunia ini. Terlebih kondisi yang sekarang ini, semakin memantapkan niatku untuk menempatkan mereka ditempat terbaik (menurutku). Bukan berarti ibuknya ndak sayang, tapi aku sadar, saat mereka disana akan leboh baik jika berada didekatku. Apakah mudah? tentu saja tidak! Setegar-tegarnya orang tua, pasti akan meneteskan air mata saat berpisah denga  anak-anaknya. Kenangan dalam kebersamaan akan terus terpampang dalam benak dan ingatan. Namun, Insya Alloh, mereka. akan ditempa. dengan sangat baik disana. 

Hari rabu kemarin, aku sambangi putri sholehahku dipondok. Surat yang dikirimkan lewat temannya, memintaku untuk sambang. Rok hitamnya hilang untuk acara penutupan besok sabtu. Sebuah. konsekwensi, saat ananda dipondok adalah "hilangnya" barang-barang mereka. Sebenarnya tidak hilang, larena beberapa kali juga barangbyang menghilabg itu kembali. Mungkin dianya lupa, dimana tempat saat menjemur. Bisa dibayangkan jika satu pondok mencuci dan menjemur bareng baju seragam yang sama di tempat yang sama pula! 

Ada satu kejadian yang menggelitikku saat aku bertemu dengan putriku dan temannya. Kulihat dan kuambil gambarnya. Anak pondok memang luar biasa. Mereka tidak memikirkan penampilan. Praktis dan to the point. Terlihat jelas pada gambar tersebut. Klip yang biasanya untuk menjepit kertas, bisa menjadi multiguna, salah satunya sebagai "penjepit sabuk". Yaa Alloh, nduk. . . . tersentuh hati ini, melihatmu dengan santainya saat aku tawarkan untuk membelikan sabuk baru,  " Ndak usah, Mah, ini ae lo masih bisa, jepit ini gaya, dan semua yo gini. . " Dengan wajah imut kau tolak tawaranku. 

Bahagianya aku, melihat kesantaian dan kenyamanan hidupmu. Barokallohu fiik putri sholehahku. Proud of you. . . 

#santribisajadiapaaja




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi