Narimo. . .





Semua manusia pastinya memiliki impian dan cita-cita yang sempurna. Segala bayangan yang berada didepan mata terlukis dengan indahnya. Kebahagian, kepuasan dan euforia lainnya pastilah mengiringi terwujudnya setiap mimpi. Boleh, wajar itu terjadi, namun yang sering terlupakan bahwa, tak semua impian dan cita-cita akan terwujud. 

Setiap apa yg kita inginkan dan rencanakan, pastinya memiliki dua peluang; berhasil ataukah gagal. Saat keberhasilan yang kita dapatkan maka tentu saja kebahagian membuncah dan selebrasi menjadi akhirnya. Disatu sisi, saat kegagalan yang telah digariskan, seringkali kita tidak siap bahkan tidak bisa menerimanya. Perlu diingat, semua diciptakan dengan berpasang-pasangan! Ada siang-malam, laki-laki dengan perempuan, tua-muda, hidup-mati bahkan, kekalahan dan kemenangan. Lantas, mengapa mesti menghadapi semua dengan kemarahan? Tak ada yang sempurna didunia ini! Tak ada yang tak tak pernah salah didunia ini. Semua tergantung bagaimana menyikapinya. Saat kejayaan berada digenggaman, maka kita sepatutnya bersyukur dan mempertahankannya, tentu saja, itu, tidaklah mudah. Dan sebaliknya, saat kegagalan berpihak, tentu saja, instropeksi diri harus dilakukan. Kenapa dan bagaimana, perlu direnungkan, tapi bukan lantas mengedepankan emosi dengan menanggalkan akal sehat, jangan! 

Peristiwa yang terjadi baru-baru ini, membuat semua mengelus dada. Sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi, tercederai olah ulah sekelompok manusia yang fanatik dengan membabi buta. Stadion Kanjuruhan Malang, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan sekaligus 'mencoreng wajah' persepak bolaan Indonesia. Olahraga yang seharusnya bisa mengedepankan ruh kompetisi yang fair menjadi ajang balas dendam dan emosional. 

Kekalahan, menjadi pemicu terjadinya kerusuhan. Ada orangtua yang kehilangan anak semata wayangnya, ada anak yang kehilangan bapaknya ada juga istri yang kehilangan suaminya. Meskipun semua takdir, setidaknya saatnya harus mulai difikirkan  bahwa "Sebuah kompetisi akan berakhir dalam dua hal; menang atau kalah". Bagi yang menang, berarti itu amanah, dan bagi yang kalah, pasti ada hikmah. Semoga kita bisa menerima setiap kekalahan dengan lapang dada. Lihat kedalam, ndak usah mencari kambing hitam, apalagi balas dendam! 

Damailah negeriku. Jayalah bangsaku. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi