SANG INSPIRATOR, itu IBUKU . . .

 

SANG INSPIRATOR, itu IBUKU . . .

Oleh : Umi Maghfiroh

Aku bangga menjadi anak dari ibuku. Meskipun beliau tidak berpendidikan tingga seperti ke tiga putrinya namun karena beliaulah kami bisa begini. Aku teringat saat masih MTs, aku jauh dari ibuku. Aku sekolah sambil mondok di Jombang. Pernah aku protes kepada ayahku, kenapa ibu tak pernah ikut saat menjengukku, ayah selalu bilang kalau ibu lagi sibuk. Belakangan aku baru tahu alasan kenapa ibuku tidak pernah ikut, karena ibu tidak tega denganku. Beliau selalu menangis saat harus meninggalkanku di pondok. Betapa hati ibu selalu menangis saat kangen kepadaku. Pernah ibu meminta ma’af atas kejadian itu. Kini aku tahu bagaimana rasanya harus berpisah dengan putri tercinta, karena saat ini putriku tercintaku sedang berada dimana aku dulu berada.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki katrampilan yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Ya, ibuku seorang penjahit. Ketrampilan beliau ini membuatnya sibuk. Apalagi ibuku sudah punya banyak pelanggan yang selalu merasa puas dengan pekerjaan ibuku. Waktu aku masih duduk di bangku MAN, aku ingat betul, saat puasa Ramadhan datang, pekerjaan ibu akan semakin bertambah. Tak jarang beliau tidur sampai larut malam demi memenuhi janjinya kepada pelanggan yang terkadang tidak berperikemanusiaan. Mereka selalu memaksakan kehendaknya untuk diselesaikan bajunya ditanggal tertentu, namun pada hari yang telah ditentukan itu mereka tidak menepati janji untuk mengambilnya. Betapamereka tidak menghargai pengorbanan beliau, tapi Ibuku tidak pernah marah dengan itu. Aku yang selalu marah, karena aku kasihan kepada beliau, namun apa yang diucapkannya,”Ndak papa, mungkin acaranya ditunda atau orangnya repot, jadi ndak bisa mengambil bajunya,” betapa ibuku adalah orang yang paling sabar di dunia. Pernah juga ada orang yang tidak bisa menghargai pekerjaan ibu, menganggap ibuku adalah pembantu yang harus mengikuti perkataanya. Sekali lagi, aku yang marah kepada ibu karena beliau mengikuti saja dan mau direndahkannya. Tapi apa kata ibu.”Ndak papa, tidak semua orang begitu, masih banyak yang baik. Emang kamu mau begitu? Biar dia saja yang begitu, kamu jangan.” Lagi-lagi kebaikan hati dan kemuliaannya mengalahkan rasa amarahku. Kata-kata beliau seringkali menjadi senjata bagiku saat amarah mencapai titik didih melihat perlakuan orang lain yang kurang baik kepadaku. Jangan balas keburukan dengan keburukan karena berarti kita sama dengan mereka. Namun balaslah keburukan dengan kebaikan, karena itu yang Alloh perintahkan.

Banyak sekali hal-hal yang beliau lakukan dahulu tanpa sengaja menjadi doktrin bagi kami ber tiga, putri-putrinya. Kebiasaan beliau yang selalu mempersiapkan segala keperluan saat mau bepergian, jauh-jauh hari sebelumnya membuat semua rencana menjadi mudah. Beliau selalu memikirkan apa yang kadang tidak terbersit dalam hati dan fikiran. Beliau selalu mengingatkan kami untuk berusaha sekuat tenaga terlebih dahulu, sisanya serahkan kepadaNya sang pemilik keputusan. Jangan mudah menyerah. Mempersiapkan semua kebutuhan kita tanpa merepotkan orang lain menjadi pelajaran berharga dalam hidup saya. Dan itu yang membuat saya dikenal di sekolah sebagai orang dengan sejuta peralatan, maksudnya saya memiliki segala ATK yang dibutuhkan oleh seorang guru, sehingga menjadi tempat jujukan ketika ada teman yang membutuhkannya, apapun itu.

Sungguh, ibu adalah pusat kumparan disetiap keluarga. Keberadaannya selalu bisa menjadi obat segala duka. Setiap kali pulang dari manapun, entah sekolah, kuliah, pulang dari bepergian, ibulah yang selalu dicari, bukan ayah. Saat sakit, ibu menjadi obat penawar. Pelukan dan perhatiannya sudah menjadi setengah dari obat penghilang rasa sakit.

Sekarang, saya bisa memahami dan mengerti juga merasakan setiap penderitaan seorang ibu, karena sekarang saya adalah seorang ibu.  Mulai mengandung dengan segala resiko ketidak nyamanan, melahirkan yang menjadi sebuah perjuangan bertaruh nyawa, menyusui, tak peduli siang malam, saat capek atau mengantuk. Pun saat mengasuh dan membesarkan anak-anak. Sepertinya waktu 24 jam tidaklah cukup untuk membersamai buah hati. Selalu menomor duakan kepentingannya diatas kepentingan keluarga.

Saya juga bisa merasakan sekarang, betapa sakitnya hati seorang ibu,ketika si anak berkata kurang sesuatu yang tidak berkenan di hati ibu karena keegoisan seorang anak remaja yang masih merasa paling benar saat itu. Ibu . . .  ma’afkan anakmu ini. Ma’afkan segala kesalahan anakmu ini, baik yang disengaja maupun tidak telah melukaimu. Tak akan bisa terbalasakan olehku setiap kebaikanmu, ibu. Semoga apa yang telah aku lakukan bisa menjadi kebahagiaan untukmu.

Di hari yang indah ini, ku ucapkan Selamat Hari Ibu . . . Semoga Alloh tetap selalu menjagamu di setiap langkahmu. Memberimu kesehatan juga kemudahan. Ibu, engkaulah inspirasiku. Terima kasih ibu . . .

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi