Pejuang garis kiri!

Dua minggu yang lalu, saya mengantarkan si kecil berobat kedokter. Akhir-akhir ini dia mengeluhkan gatal-gatal yang mengganggu aktifitasnya. Sambil menunggu antrian, petugas pendaftaran yang ada ruangan tersebut meminta anakku untuk menimbang berat badannya, 43 kilo. Alhamdulillah, naik dua kilo dari dari bulan kemarin. Si kecilku ini memang istimewa. Dia anak paling tinggi di kelasnya juga di antara teman-teman  bermainnya. Jangan tanya kok bisa. Tentu saja bisa, meskipun tinggi badan saya hanya 150 cm, tapi suami saya memiliki tinggi 180 cm. Dari ayahnyalah gen tinggi itu didapat. Itulah bukti keadilan Tuhan.

Sebelum Corona datang, berat badan saya berkisar antara 49-50 kg (masih lumayan enak dilihat  menurut saya) Mungkin ini disebabkan mobilitas di sekolah yang lumayan tinggi. Kebetulan saya mengajar kelas 8. Dan kebetulan juga tiga dari delapan kelas yang saya ajar berada di lantai 2. Jadwal dari ke tiga kelas tersebut tersebar menjadi 5 hari. Bisa dibayangkan, hampir setiap hari saya naik turun tangga. Belum lagi saat ada ATK saya yang tertinggal di ruang guru. Tapi Alhamdulillah. . . semua saya lakukan dengan senang hati, itung-itung olahraga. Mengajar dapat bonus sehat.

Sebulan yang lalu, setiap bangun tidur saya merasakan sakit di tumit kaki kiri saya. Meskipun rasa sakit itu tidak berlangsung lama, namun cukup mengganggu saya. Saya putuskan untuk bertanya kepada Mbak Nina, petugas kesehatan yang ada di sekolah saya. Diagnosa awalnya, mungkin asam urat saya sedang tinggi. Akhirnya saya minta Mbak Nina untuk mengechecknya. Sebenarnya saya lumayan rutin mengecheck tiga hal penting bagi kesehatan saya, yakni: kolesterol, asam urat dan gula darah. Alhamdulillah selama ini hasilnya baik-baik saja. Ini juga yang menjadi dasar diagnosa awal tersebut, karena selama ini saya tidak mengeluhkan apa-apa. Kesepakatan kami buat. Bersama beberapa teman, kami melakukan pengechekan terhadap tiga hal tersebut. Hasilnya?Allohu akbar. . ternyata benar, ada kenaikan yang luar biasa di kolesterol saya. Dari hasil check terakhir saya 169, menjadi 221. Padahal batas normalnya adalah 200. Pantesan badan kok terasa tidak nyaman ya. Barulah tersadar saya, ternyata bergerak itu sangatlah penting. Selama masa pandemi, saya tidak menggerakkan tubuh seperti sebelumnya. Ritme makanpun tidak terkontrol lagi. Yang pasti, tidak ada keseimbangan antara makanan yang masuk dengan pembakaran kalori. Bukan hanya itu, saya juga dapat bonus dari timbangan badan yang bergeser ke kanan, 55 kg. Mungkin tidak masalah bagi para pria, namun akan menjadi masalah bagi sebagian perempuan. Apalagi suami sempat komentar,”kok maleh abot to dek”, ketika minta diinjak-injak punggungnya. Sempurna! PR nih, gimana caranya jarum timbangan itu bisa bergeser ke kiri, ke titik semula. Ucapan “tambah gendut ya atau tambah subur ya”, lebih menakutkan dari pada dipanggil bapak kepala madrasah ke ruangannya.

Dengan semangat 45 saya mulai browsing tips cara menurunkan berat badan. Hamper semua tips yang saya baca mengharuskan untuk melakukan diet dan olahraga, padahal saya orang yang malas berolah raga. Apalagi dalam tips tersebut olah raga harus dilakukan secara rutin  minimal selama 30 menit. Waduh, tambah males mengikutinya. Akhirnya saya teringat perkataan salah satu teman saya yang menceritakan tentang diet air putih dapat menurunkan berat badan juga menyehatkan (saya lupa siapa dulu yang bercerita) Fix! Saya putuskan untuk mencoba tips ini. Hari itu juga, pulang dari sekolah, saya membeli air mineral kemasan terbesar sebanyak tiga botol, dan berniat memulai tips yang saya dapatkan tadi. Saya letakkan botol air minum tersebut di kamar saya agar bisa meminumnya sewaktu-waktu, saya membuat empat aturan dalam program ini. Aturan pertama,  saya mengharuskan diri saya untuk menghabiskan tiga botol air putih  selama dua hari. Kemudian mengatur pola makan. Biasanya waktu makan adalah pagi, siang menjelang sore dan malam hari. Sekarang harus saya rubah. Saya tidak makan setelah pukul tujuh malam menjadi peraturan ke dua. Saat lapar, saya mengkonsumsi buah atau minum air putih. Resikonya, setiap malam harus bolak-balik ke kamar mandi, tidak masalah. Mengurangi ngemil adalah aturan ke tiga. Bukan berarti tidak sama sekali. Ini yang agak sulit, karena di lingkungan saya banyak sekali penjual makanan kecil. Bakso masih enak, rujak juga enak, apalagi cilok, uih . . enak buanget  Tapi demi tidak dikatakan “kok abot” lagi sama suami, saya harus melakukannya, sakitnya tuh disini!. Saya adalah orang yang malas berolah raga, maka aturan ke empat yang saya buat adalah berjalan kaki ketempat belanja yang dekat, atau naik sepeda onthel apabila tempatnya agak jauh. Ke empat aturan ini sudah saya lakukan selama kurang lebih satu bulan. Dua hari yang lalu, saat ke rumah kakak, saya melihat timbangan badan dan mencoba untuk mengecek hasil diet yang sudah saya jalani. Saat  saya melihat jarum yang menunjukkan angka 50, serta merta saya berteriak, yes! (untung tidak ada yang mendengar). Alhamdulillah, apa yang saya lakukan berhasil. Saya juga menyadari, sakit di tumit sehabis bangun tidur yang saya rasakan juga berkurang. Untuk mengechek apakah kolesterol ikut hilang bersamadenagn turunnya berat badan, perlu datang dan check lagi ke Mbak Nina, petugas kesehatan sekolah yang cantik.

Sulitkah melakukannya? Bagi yang belum terbiasa minum  putih mungkin iya, karena rasa mual dan begah akan terasa di awalnya. Tapi kita tahu kan, kalau air putih akan membantu kita menjaga kesehatan ginjal juga, terlebih bagi yang sering duduk di depan laptop selama berjam-jam. Kuncinya adalah semangat dan disiplin, agar bisa berhasil. Itu saja. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi yang punya masalah serupa dengan saya. Patut dicoba, karena saya sudah membuktikannya. Ayo hidup sehat, sayangi diri kita sendiri.

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi