Mobil Putih (CERPEN)
Pagi
itu aku bersiap untuk pergi ke rumah budhe Ninik. Tiga hari lagi anaknya,
Daniar akan menikah. Sebelum berangkat ku minta mas Fachri untuk mengantarkan
anakku Dimas, yang masih kelas 2 SD, ke Mall untuk beli sepatu. Semalam dia menangis
karena sepatunya kekecilan. "Mas, nanti setelah ngantar Dimas langsung ke
rumah budhe, jangan lupa beli jajan buat Dimas biar anteng di
sana", pesenku kepada mas Fachri. Aku memang terbiasa mengurus mereka dari
A to Z dan mas Fachri suka itu.
"Siap
boss, perintah dilaksanakan", jawabnya sambil menaruh tangan dipelipis
kanannya, seperti prajurit yang hormat kepada atasannya. Kebiasaan!
Kulihat
Grab car yang sudah kupesan sebelumnya
stand by di depan rumah. Jarak rumah budhe dengan rumahku lumayan
jauh, 50 menit perjalan. Aku berpamitan kepada mereka. Kucium tangan suamiku dan dia membalasnya
dengan pelukan dan kecupan di dahiku-- jangan iri, ini memang salam perpisahan
kami-- Tak lupa ku peluk dan kucium pipi Dimas, sambil berpesan agar dia nurut sama
ayahnya saat di Mall nanti.
Sesampainya
di rumah budhe, aku melihat banyak orang. Aku langsung membaur dengan mereka. Ku
sapa juga menanyakan kabar, maklumlah kami jarang bersua meskipun satu kota. Gelak
tawa terdengar diantara kami yang menceritakan romantika kehidupan keluarga
masing-masing, begitulah kami saat berkumpul bersama.
"Aida.
. . Aida . . mas Fachri,. . " teriak Amel,
sepupuku, dia berteriak menghampiriki sambil menunjukkan gambar kecelakaan
yang baru saja terjadi dan dikabarkan
korbannya meninggal ditempat. Bergetar hati ini seakan tak percaya melihat
mobil putih dengan plat nomor yang sama dengan mobil mas fachri di hand phone
Amel. Sesak dada ini melihat berita itu, seakan ada batu besar yang menimpaku. Yaa
Tuhan . . . begitu cepatkah kebersamaan kami di dunia ini. Baru bebrapa waktu
yang lalu kami bercanda, memeluknya. Hamba belum siap untuk berpisah dengannya.
Ku mohon . . . jeritku dalam hati.
Semua
orang bersaha menenangkanku atas musibah ini. Kuangkat HP yang sedari tadi menjerit seakan ikut bersedih merasakan
penderitaanku, apakah ini kabar dari kepolisian tentang kecelakaan itu, "Hallo,
assalamu'alaikum…“ ku ucapkan salam dengan penuh kepasrahan, membayangkan wajah
mas Fachri dan Dimas.
"Waalaikum
salam " terdengar suara yang tak
asing bagiku dari balik telepon genggamku,"Mas Fachri, ini mas… Alhamdulillah.
. . " tak bisa ku sembunyikan rasa lega bercampur bahagia mendengan suara
yang selalu menyejukkan hatiku.
"Iya,
kecelakaan itu bukan aku, tadi pagi saat aku akan berangkat, Pak Denny datang
meminjam mobil untuk jemput anaknya di Bandara, mobilnya sedang di
bengkel, jadi. . . . . " tak ku pedulikan suara mas
Fachri yang menjelaskan kejadian itu, yang penting bagiku, ke dua permata
hatiku masih bersamaku. Terima kasih Yaa Alloh. . . Engkau masih mengijinkan
kami untuk bersama.

Komentar
Posting Komentar