Ma’afkan aku mas . . . (Cerpen, Bagian 2)
Tiga
hari sudah aku mendiamkan mas Danu. Dia berusaha membujukku agar bercerita
kenapa sikapku jadi berubah. Memang tiga hari ini aku bersikap dingin, walaupun
tugasku sebagai istri tetap aku lakukan, kecuali bersikap manja seperti
biasanya, dan itu yang paling disukai mas Danu dariku —biarin, salah sendiri nggak
jujur—
Malam
itu seperti biasa, saya tidur duluan setelah sholat isya’ berjama’ah dengan mas
Danu. Aku tidur menghadap tembok kamarku, setelah mengganti bajuku dengan
piyama biru kesayanganku. Aku berusaha melelapkan diri dalam tidur, namun hati
dan pikiranku tidak mau berkompromi. Bayangan seorang perempuan bernama Daniar
tetap menari-nari di pelupuk mataku. Siapa dia dan apa hubungannya dengan mas
Danu. Kapan pertama kali bertemu. Untuk apa uang itu, apa jangan-jangan untuk
menutupi kesalahan mereka berdua?—jika semua pertanyaan di pikiranku itu dapat
dilihat, mungkin seperti struk belanja bulanan yang panjang—
Kudengar
mas Danu membuka pintu kamar dan berbaring di belakangku. Sesaat kurasakan
tangan mas Danu memeluk pinggangku. Aku tidak memberikan reaksi apa-apa. Aku
berharap mas Danu bercerita kepadaku tentang siapa Daniar tanpa aku bertanya
terlebih dahulu. Seharusnya sebagai suami mas Danu mengerti dong, kenapa
istrinya kok berubah. Masak jadi suami nggak peka!
“Sayangku
. . . kenapa sih, ada apa, cerita dong sama mas.” mas Danu berusaha merayuku
dengan mencium pipi sambil membelai rambutku.
“Nggak
papa mas. . . “, jawabku singkat.
“Dari
kemarin kamu selalu bilang nggak papa, tapi sikapmu itu menunjukkan ada apa-apa
Diandra sayang,” kata mas Danu yang sangat memahami diriku. Memang sejak
pertemuanku dengan Linda itu, aku bersikap datar kepada mas Danu. Aku selalu
menjawab dengan kalimat, nggak papa mas, ketika mas Danu bertanya.
Mas
Danu menarik tubuhku hingga posisi kami duduk berhadapan. “Sekarang bilang ada
apa, mas Danu nggak tahan kalau kamu begini . . .”katanya dengan memegang ke
dua pundakku. Ku tatap wajah gantengnya. Apa aku harus bertanya duluan ya, agar
semua jelas. Mumpung pernikahan kami masih dua tahun dan kami belum diberi
momongan. Jadi mudah nanti kalau kami harus berpisah. Mungkin mudah untuk mas
Danu, tapi tidak untukku. Aku sangat mencintainya. Aku belum siap, tapi aku
tidak mau diduakan.
‘Diandra
sayangku, katakan . . . “, ucap mas Danu lembut sambil menepuk pipiku.
Aku
kumpulkan kekuatan untuk menghadapi mas Danu. Aku harus menyelesaikannya, sekarang atau tidak sama sekali.
“Mas,
apa menurutmu, tidak ada yang harus dibicarakan?” kumulai memancingnya untuk
mengatakan yang sebenarnya. Melihat reaksinya yang tidak menunjukkan rasa
bersalah, akhirnya ku ceritakan pertemuanku dengan Linda di parkiran Mall
beberapa hari yang lalu. Tentang pertemuannya dengan mas Ridwan, tentang mas
Danu yang menitipkan uang kepada Daniar juga kekesalanku karena mas Danu mulai
tidak jujur kepadaku.
“O.
. .karena itu, sikapmu berubah akhir-akhir ini?”, mas Danu berusaha memelukku
demi meredakan rasa marah dan cempuru yang mulai menguasaiku. Kutepis ke dua
tangan mas Danu. Aku mundurkan badanku dan menolak semua perlakuan mas Danu.
Rasa benci mulai mendatangiku. Benci dengan keadaan diriku, bensi dengan sikap
mas Danu, benci dengan takdir Alloh yang terjadi padaku . . . .
Mas
Danu terus mendekatiku dan berusaha memelukku. Aku terus berontak, namun apa
daya, tubuh kekarnya lebih kuat dariku. Akhirnya aku pasrah saat mas Danu
merengkuhku dan mencium keningku.
“Sayang,
ma’afkan aku karena telah membuatmu salah faham akan hal ini”. Salah faham! Apa
maksudnya.
“Sayang,
kamu masih ingat Chandra, teman satu kosanku mas saat kuliah dulu?. Seminggu
yang lalu dia minta tolong untuk mencari alamat bik Minah, pengasuhnya saat di
Bandung dulu. Bik Minah asli orang
Surabaya sini. Karena Ridwan sudah lama disini, maka aku minta tolong dia untuk
mencari alamat bik Minah. Daniar adalah anaknya bik Minah yang kebetulan tempat
kerjanya tidak jauh dari kantor Ridwan. Uang sepuluh juta itu dari Chandra
untuk bik Minah yang katanya lagi sakit, dan mau dioperasi. . . begitu
ceritanya, sayangku. . . “. Mas Danu menatapku dengan penuh cinta, seakan
mengisyaratkan bahwa dia tak akan kami akan selalu bersama. Lega rasanya
setelah mendengarkan penjelasan mas Danu. Rasa marah, kesal dan cemburu raib
seketika berganti rasa malu. Malu telah mencurigai mas Danu, malu telah
meragukannya, malu telah mengabaikannya, terlebih malu telah berprasangka buruk
kepadaNya. Menyalahkan taqdirNya. Ma’afkan aku yaa Alloh. .
“Kenapa
mas Danu tidak cerita kepadaku, kenapa mesti Linda yang pertama memberi tahuku”.
ucapku mencoba mencari pembenaran atas kesalahanku. Kubenamkan wajahku ke dada
mas Danu. Tak mau menatap wajahnya. Aku terlanjur malu. .
‘Masih
marah?”, ledeknya sambil melingkarkan ke dua tangannya, mendekapku erat. Malam
ini akan jadi malam terindah bagi kami berdua. Tembok pemisah itu sudah roboh
oleh penjelasan mas Danu. Ku pasrahkan diriku dalam cinta mas Danu. Berharap
kejadian itu tak akan terulang lagi, itu janji kami.
SELESAI
#Terima kasih sudah berkenan membacanya.

Komentar
Posting Komentar