Ma’afkan aku Mas . . . (Cerpen, Bagian 1)

 


Terlihat mas Danu sedang duduk di depan Televisi. “Mumpung lagi santai, ini adalah waktu yang tepat untuk merayunya”, begitu yang selalu dilakukan Diandra ketika menginginkan sesuatu dari Danu.

“Mas, aku mau memakai baju ini sama tas yang ini untuk acara dikantormu minggu depan ya” kuperlihatkan sebuah baju dengan model terkini berwarna biru kepadanya dari HPku.

“Biru lagi? nggak ada warna lainnya?”, jawabnya sambil memencet hidung mungilku.

“Mas kan tahu aku suka warna biru dan mas Danu nanti beli batik biru juga ya, biar sama an . . .”, pintaku sambil memeluk dan menciumnya, berharap dia setuju.

“Terserah kamu aja, asal kamu senang”. katanya sambil memperlihatkan senyumnya yang menawan. 

Mas Danu, seorang laki-laki yang baru dua tahun ini menjadi suamiku. Laki-laki tampan dan berwibawa serta penyayang. Dia sosok imam yang sholeh dan sabar menghadapi aku yang manja dan banyak maunya.

 

Dua hari sebelum acara di kantornya, sehabis isya’, kuajak mas Danu untuk membeli batik biru yang telah kami sepakati. King Mall, tempat belanja terbesar di Surabaya--kota yang baru 4 bulan ini kami tinggali-- sebagai pilihan kami. Toko baju batik jadi tujuan kami. Sesampainaya di Mall, kami langsung masuk ke sebuah toko baju batik. Pelayannya ramah dan menyenangkan. Mereka melayani kami dengan senang hati, meskipun aku orang yang pemilih.

“Ini koleksi terbaru toko kami, baru datang seminggu yang lalu”, mbak pelayan itu memperlihatkan baju batik biru yang bagus. Sepertinya batik itu cocok menjadi pasangan bajuku yang baru datang kemarin.

“Sip!, cocok ini mbak. . . kami pilih yang ini saja!”. Ku lihat mas Danu menatapku tanpa ekspresi. Mungkin dia hanya pasrah dan tidak mungkin akan mendebatku. Pastilah kalah atau sengaja mengalah karena tidak mau berkonflik denganku. Bisa berabe urusannya kalau sampai terjadi, he he he . . .

Sambil menunggu bajunya dibungkus, mas Danu berjalan menuju kasir. Aku sudah membayangkan penampilan kami, besok lusa. Pasti akan terpilih sebagai “Couple of the Party”. Semua orang memperhatikan kami, menunjuk kami sebagai pasangan paling serasi dan memberikan mahkota sebagai pasangan terbaik, uh . . bangga rasanya. Khayalan tingkat tinggiku mulai muncul . . .

“Kita makan dulu ya sayang, lapar nih. . . “ ajak mas Danu membuyarkan lamunan indahku.

Setelah berdiskusi panjang kali lebar, akhirnya Sop Ayam pak Karim menjadi pilihan kami. Aku bukan termasuk istri yang pintar memasak, jadi seringkali kami makan di luar, namun mas Danu tak mempermasalahkan kekuranganku. Duh. . . beruntung banget nggak sih aku . . . dapat suami ganteng, sabar, pengertian lagi . .

“Oke, deal . . . setuju, kangen sama perkedel kentangnya mas” kali ini aku setuju dengan ide mas Danu. Biasanya sih, pilihanku yang berlaku. Kami langsung menuju tempat parkir dan meluncur ke Sop Aya Pak Karim. Saat kami berjalan menuju parkiran, aku mendengar seseorang memanggilku.

“Ndra . . . Diandra!”, ku arahkan mataku pada sumber suara yang ku dengar tadi. Kulihat sesosok perempuan berjalan ke arahku.

“Linda. . . “, seruku saat melihat wajah teman lama yang aku cari selama aku tinggal di kota ini. Kudekati mas Danu yang sedang mencari mobil kami. “Sebentar ya mas, mumpung ketemu nih, mas Danu tunggu di mobil saja” kataku .

“Oke, jangan lama-lama ya sayang, mas lapar nih. . .” pesannya kepadaku. Ku kerlingkan mataku sambil mengacungkan ke dua jempolku.

Aku berjalan ke arah Linda, teman kuliahku yang sudah menetap di Surabaya selama tiga tahun karena mengikuti suaminya. Kami satu kampus dulunya di Bandung. Dia menikah dengan mas Ridwan, kakak tingkat kampus yang seangkatan sama mas Danu. Kami berpelukan erat seakan-akan melepaskan rindu karena lama tidak ketemu.

“Oh ya Ndra, mau nanya nih, penasaran soalnya. . . tiga hari yang lalu mas Danu ke rumah nyari mas Ridwan. Terus aku dengar, mas Danu titip uang ke mas Ridwan, kayaknya Rp.10.000.000,00 gitu buat Daniar. Emangnya siapa sih Daniar itu Ndra. . ” tanya Linda sambil melepas pelukannya dan memegang tanganku. Dheg! Terasa hawa panas mengaliri sekujur tubuhku demi mendengar apa yang di katakana Linda. Aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang –mungkin begini ya maksud lagunya Dani Dewa-- 

“Daniar?” kataku dengan penuh tanya, berusaha mengendalikan perasaan. Sepertinya aku belum pernah mendengar nama itu. Dan mas Danu pun belum pernah cerita tentang perempuan itu.

“Iya, Daniar . . . siapa sih dia, penasaran aku, kenapa suamimu bisa ngasih uang banyak gitu ya?”

“Mungkin temannya yang sedang butuh bantuan mas Danu, biasakan mas Danu, orang terbaik sedunia. . “. Jawabku sekenanya karena aku tidak mau Linda berfikir macam-macam tentang mas Danu juga kehidupan kami. Tak mau semakin membuat Linda bingung, aku pamit untuk kembali ke mas Danu.

“oh ya Lin, aku duluan ya, kasian mas Danu sudah nunggu lama di mobil, kapan-kapan disambung lagi ya” pamitku. Kutinggalkan Linda yang berdiri dengan penuh rasa penasaran. Kuberjalan dengan perasaan yang bercampur aduk. Kesal, marah, cemburu menguasai hati dan pikiranku. Daniar, siapa dia, kenapa mas Danu tidak cerita padaku tentang dia. Tak terasa, butiran bening jatuh dipipiku. Sejuta tanya terlintas dikepalaku. Tak kuhiraukan mobil yang memencet klakson karena langkahku yang menghalangi jalannya.

Ku buka pintu mobil dengan perlahan. Tak ingin mas Danu tahu apa yang aku rasakan.

“Kok lama sayang, mas dah lapar banget nih. . .” sapanya setelah aku duduk di sebelahnya. Mas Danu mulai menjalankan mobilnya. Aku terdiam seribu bahasa, tapi hati dan pikiranku tak bisa diam. Rupanya mas Danu menyadari keadaan ini. Karena biasanya aku tak bisa diam dan pasti bercerita apapun yang terjadi.

“Tadi itu siapa sayang? Tumben nggak cerita ke Mas”, tanya mas Danu seakan ingin mengorek apa yang telah terjadi.

“Teman kuliah Mas”,jawabku pendek karena berusaha menyembunyikan tangisaku yang tertahan.

“Kok nggak cerita ke Mas,kenapa, Mas nggak boleh tau ya?” ucapnya penuh selidik.

Aku diam, tak menjawab pertanyaan mas Danu. Kenapa mas Danu menyembunyikan tentang Daniar kepadaku. Kenapa mas Danu mulai tidak terbuka. Pernikahan kami baru dua tahun, apa mas Danu sudah menyerah dengan keadaan ini. Apakah anak menjadi penyebab mas Danu berubah. Yaa Alloh . . apa aku salah kalau belum memberikan keturunan kepadanya. Bukankah semua atas kehendakMu? Apa dayaku bila Engkau belum mengijinkan kami”. Begitu banyak pertanyaan yang berseliweran di benakku.

Makan malam kami hari ini terasa hambar. Aku diam seribu bahasa. Mas Danu menikmati makanannya sambil sesekali menatapku penuh tanya. Sop ayam yang biasanya enak di lidah, kini terasa pahit, seperti pahitnya perasaanku mendengar kabar tentang perempuan itu, Daniar.

 

 

___________________________________________________________________________________

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi