Gurusiana, Terima kasih
Gurusiana, Terima kasih
Oleh:
Umi Maghfiroh
Beberapa kali saya membaca tulisan di gurusiana yang ditulus bukan oleh seorang guru.. Jujur! Rasanya seperti dicubit tapi cubitan sayang . . . eh massak iya, yang bukan guru saja mau meluangkan waktunya untuk menulis, sedangkan guru yang mestinya lebih berteman baik, bahkan bersahabat dengan dunia tulis menulis belum tergerak untuk menulis. Ditambah lagi aturan yang akan datang mengkondisikan kita untuk familiar dengan litersai, karena sistem penilaian yang akan berubah bersamaan sengan di hapusnya Ujian nasionan dan berganti dengan assessment yang menekankan pada kemampuan siswa dalam literasi dan numerisasi. Nah, jadi tuntutan kan,melek litersasinya . . .
Profesi lain yang saya maksud adalah dokter. Ada seorang dokter di gurusiana yang sudah menerbitkan bukunya, pak dokter hewan Iwan Berry Prima, salah satu dokter yang saya follow di gurusiana-- sepertinya ada profesi lainnya, tapi saya lupa tidak menfollownya -- Beliau seorang dokter hewan yang juga dosen di salah satu Universitas Brawijaya Malang, bisa dibayangkan sibuknya, tapi semangat menulis beliau luar biasa. Dan lebih keren lagi, beliau juga menularkan semangat menulisnya kepada para mahasiawanya dan memberi reward sebuah buku. Bravo pak dokter!
Memang sih, menulis itu tidak mudah, tapi bukan itu sebenarnya alasan yang tepat bagi yang belum berani mencoba, Kurang Percaya Diri! Sepertinya itu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Terbukti kemarin di grup WA sekolah, ada seorang guru yang mengunggah tulisannya dengan tujuan mencoba menggali potensi diri, ternyata bagus, ngalir dan mudah dicerna. Namun saat diminta untuk bergabung di blog gurusiana dia bilang, “Sek bu, aku tak belajar disek”. Nah kan? Faktor utamanya sepertinya kurang percaya diri. Sebagai penulis egois—entah siapa yang mempopulerkan istilah ini, tapi benar adanya—mereka hanya menulis untuk dirinya sendiri. Padahal, banyak pasti ada pelajaran yang bisa diambil dari tulisan itu apabila di unggah di publik.
Ada lagi yang mengatakan menulis itu bakat dan hanya guru bahasa saja yang bisa!Masa iya, kalau menurut saya sih . . yang mau menulis itu orang-orang nekat! Dengan mengesampingkan segala kekurangan dan mengedepankan keberanian untuk belajar demi menghasilkan karya hanya dimiliki orang yang benar-benar nekat. Bakat bisa diciptakan apabila kita mau melatih diri dan focus pada tujuan. Menggali potensi diri, yang tidak semua orang mau melakukannya, akan menunjukkan bahwa kita bisa melampaui batas yang seringkali kita ciptakan sendiri. Nyatanya banyak sekali juga di gurusiana yang terubah predikatnya menjadi guru bahasa Indonesia karena saking kerennya tulisan mereka padahal mereka adalah guru Matematika, Fisika, Sejarah, Agama dan msih banyak yang lainnya. Bahkan guru SD, TK PAUD juga ada! Acung dua jempol buat mereka!
Yang saya rasakan sampai di hari ke 35 ini, ternyata komentar teman-teman dan para senior saat saya mengunggah tulisan di gurusiana juga di face booknya MGI (Media Guru Indonesia), yang memotivasi dan menyemangati saya untuk terus berusaha menulis tanpa henti, semoga dimudahkan jalannya, Aamiin.
Gurusiana, engkau luar biasa!—ma’af mas Ariel saya pinjam kata
penyemangatnya—bersyukur rasanya bisa mengenal dan bergabung denganmu. Banyak
ilmu yang saya dapatkan. Terima kasih juga untuk para senior yang selalu
menyemangati saya atas hasil karya saya, meskipun masih sangat sederhana. Yang
patut saya beri ucapan terima kasih juga adalah bapak Kepala sekolah saya,
bapak Asrori,M.Pd.I yang telah menunjuk saya dan teman-teman—apapun alasan
beliau atas penunjukan kami-- untuk megenalkan kami di komunitas ini. Terima
kasih bapak!

Komentar
Posting Komentar