Cerpen : "Calon Imam pilihan orang tua. (Bagian 2)"

 

Calon Imam pilihan orang tua. (Bagian 2)

 

Oleh: Umi Maghfiroh

 

“Nduk, besok antar ibu ke pasar ya, besok lusa kita akan kedatangan tamu.” pinta ibu setelah melihat Nadira keluar dari kamarnya.

“Iya bu, jam berapa?”, jawab Nadira pelan.

“Pagi, jam 7, bisakan? Apa kamu ada acara besok?”,tanya ibu seakan mengerti perasaan Nadira.

“Bisa, besok Dira antar, Dira nggak kemana-mana”, jawab Nadira sambil duduk di kursi makan dan memainkan gawainya, seperti sedang menunggu kabar dari seseorang. Pagi itu, Nadira tidak ke kampus, karena hari Sabtu tidak ada jadwal kuliah. Diambilnya setoples kue kering yang selalu disediakan ibu di meja makan. Kusmarini, perempuan asli Solo, yang biasa dipanggil ibu Rini, tersenyum memandang anaknya sambil duduk di sampingnya.

“Dir, Senin malam, kita akan kedatangan tamu. Ibu mohon kamu bersikap yang baik ya untuk menghormati tamu kita.” Ucap ibu perlahan seperti ibu yang membujuk anaknya yang sedang marah. “Ibu sudah siapkan pakaian yang akan kamu kenakan besok senin dan ibu sudah minta mbak Merry untuk dandani kamu, biar kamu cantik.” kata ibu yang membuat Nadira bertanya-tanya, siapa sih tamunya yang di maksud ibu  sampai ibu menyambutnya dengan istimewa dan meminta dia dandan yang cantik.

“Siapa sih bu tamunya, kenapa Nadira mesti berdandan untuk menyambutnya?” tanya Nadira penuh curiga dan kesal. Disaat hatinya sedang kacau begini, kenapa malah disuruh berdandan yang cantik, untuk siapa? Apa jangan-jangan ibu akan menjodohkan aku dengan teman ibu atau ayah, seperti adat keluarga kami , karena mas Angga tak ada kabar beritanya? Nadira mulai menaruh curiga atas apa yang sedang direncanakan ibunya.

“Iya, kamu mau dijodohkan sama seseorang, karena mas Anggamu itu nggak ada kabar beritanya. Jangan-jangan sudah nikah sama orang lagi.” sahut Bagus, kakak Nadira yang sepertinya bisa membaca pikiran Nadira.

‘Lagian sebentar lagi kamu lulus, dan harus cepat menikah, lebih cepat lebih baik”. kata mas Bagus yang membuat Nadira semakin gelisah

“Ibu, apa benar Nadira mau dijodohkan? Apakah ini perintah  ayah sama ibu?” tanya Nadira dengan suara bergetar. Setiap perintah orangtua maka anak harus mengikutinya, itu adalah ajaran dikeluarga Nadira. Ta’at kepada orang tua hukumnya wajib tanpa bantahan.

Ibu Rini hanya tersenyum dan mengangguk. Sikap inilah yang membuat hati Nadira selalu luluh dan tidak pernah membantah. Perempuan 53 tahun berjilbab dan berwajah keibuan itu selalu bertutur kata lembut. Beliau  selalu bisa mengambil hati semua orang. Tak pernah sekalipun beliau berkata keras bahkan kasar kepada ke dua anaknya. Karena itulah mereka selalu mematuhi apapun yang diucapkan bu Rini, ucapan beliau adalah perintah. Pak Ilham, suami bu Rini adalah seorang manager diperusahaan perbankan swasta. Beliau juga sosok yang sopan, lembut dan bijaksana, mungkin dikarenakan beliau asli orang Yogjakarta. Tak heran kenapa Bagus dan Nadira menjadi pribadi yang tenang, sopan dan menghormati yang lebih tua.

Nadira tercekat dan tak bisa berkata apa-apa melihat jawaban ibunya. Apakah begini akhir dari kisah cinta pertamaku. Seperti film Drakor yang sering kutonton di kamarku. Yaa Robb, jika ini adalah taqdirMu, maka aku akan mengikutinya demi perintahMu untuk berbakti kepada ke dua orang tua. Karena ridhoMu adalah ridho orang tuaku. 

Malam ini dirasakan Nadira lebih panjang dan gelap, melebihi malam-malam sebelumnya. Dihempaskannya badan kecil itu di atas kasur. Matanya memandang pada langit-langit kamarnya yang menampakkan wajah seorang laki-laki yang ingin ditemuinya, Angga. Bagaimana dia bisa melupakan Angga. Lelaki pertama yang mengisi hatinya. Cinta pertama yang dia harapkan menjadi cinta yang terakhir di hidupnya. Dia tak berdaya menolak keinginan orang tuanya, meskipun hancur dan perih perasaannya. Biarlah waktu yang akan mengurai segalanya. 

Pagi itu Nadira terbangun mendengar suara bu Rini membangunkannya, “Dir, Dira . . .  ayo bangun, katanya mau antar ibu belanja ke pasar?” bu Rini mencoba membangunkan Nadira dengan suara yang lembut. Rupanya setelah sholat subuh Nadira tertidur dengan buku yang masih ditangannya. Bergegas Nadira ke kamar mandi yang ada di pojok kamarnya. Mengambil jaket yang ada dibalik pintu juga jilbabnya. “Ayo bu, kita berangkat.” Ajak Nadira sambil menggandeng lengan ibunya. Keduanya berangkat ke pasar dengan mengendarai motor scoopy putih kesayangan Nadira. Sesampainya di pasar, Nadira mengikuti kemanapun langkah kaki bu Rini. Tak terasa barang belanjaan yang dibeli mereka sudah menggunung. Tamu yang akan datang ini  ternyata benar-benar istimewa, pikir Nadira.

Seperti biasa, bu Rini sudah menyiapakan ojek untuk mengangkut belanjaannya. Bu Rini adalah pelanggan dipasar tersebut, semua orang sepertinya sudah mengenalnya. Ibu Rini punya usaha catering yang tidak terlalu besar. Beliau sering melayani pesanan nasi kotak dari kantor pak Ilham dan tetangga sekitar rumahnya. Ada banyak kendaraan ojek yang berjejer di depan pasar dan siap mengantar kemanapun . Bu Rini juga punya langganan  untuk yang satu ini, Mang Dimang namanya, pemilik kendaraan jenis gerobak motor yang ramah dan sopan. Seperti biasa mang Dimang sudah siap membawa belanjaan untuk diantar pulang. Nadira dan bu Rini mengikuti dibelakangnya. 

Sejak pagi rumah Nadira terlihat ramai dan sibuk. Beberapa tetangga dan saudara dekat terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk acara perjodohan Nadira dengan lelaki pilihan orang tuanya. Pak Ilham dan Bagus terlihat menata ruang depan untuk menyambut tamu istimewa. Duduk lesehan menjadi pilihan, agar lebih leluasa dan akrab.  Walaupun mereka tinggal di Bandung kurang lebih 13 tahun semenjak pak Ilham dipindah tugaskan, namun budaya Jawa masih sangat mereka  pegang teguh. Ruang keluarga yang lumayan besar sebagai ruang pertemuan di bagi menjadi dua, sebelah barat untuk bara tamu dan disisi timur untuk keluarga mereka.  Dikamarnya, Nadira terlihat berkali-kali menghubungi seseorang lewat handphonenya, namun tak pernah mendapat jawaban. Dia berusaha menghubungi Angga yang dua bulan ini tidak mengirim kabar, pun tak bisa dihubungi. Mbak Merry terlihat sibuk mendandani Nadira. Tangannya dengan lihai menari-nari di wajah Nadira, menyulapnya menjadi gadis yang cantik malam ini.

“Sudah Mbak Merry, jangan terlalu tebal make upnya, Dira nggak suka.”ucap Dira berusaha menghentikan jari mbak Merry yang terus saja memoles wajah cantiknya.

“Sudah kok Mbak, sudah selesai. Mbak Nadira cantik banget malam ini. Nanti calon suami Mbak pasti langsung jatuh cinta.”puji mbak Merry setelah melihat hasil riasannya.  Nadira memang terlihat cantik dan anggun mengenakan gaun brokat ungu muda yang dipadu dengan hijab warna ungu sedikit tua. Cantik? buat apa kalau kecantikan ini bukan dari hati. Buat apa kecantikan ini kalau aku belum bisa melupakan mas Angga. Kasihan engkau wahai calon suami pilihan orang tuaku, ma’afkan aku, batin Nadira yang masih terus mengharapkan Angga. Bagaimana nanti menghadapi calon suaminya? Bisakah dia membahagiakannya? Bagaimana kalau calon suaminya tahu bahwa dia masih mencintai Angga? Pertanyaan yang tak pernah dia tahu jawabannya terngiang-ngiang di telinganya. Ah entahlah . . . . .

BERSAMBUNG



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi