Cerpen: Calon Imam pilihan orang tua. (Bagian 1)
Calon Imam pilihan
orang tua. (Bagian 1)
Oleh: Umi Maghfiroh
Nadira, gadis manis berjilbab biru muda itu duduk di bangku tua di bawah pohon akasia di samping perpustakaan kampusnya. Beberapa hari belakangan, kebiasaan ini selalu dia lakukannya. Tak heran, kenangan bersama kekasihnya, Angga, yang sudah hampir dua bulan ini tak berkirim kabar. Angga adalah kakak kelasnya di kampus yang sama. Mahasiswa Tekhnik yang tinggal menunggu wisuda. Tempat itu mengingatkannya pada awal pertemuan mereka. Nadira, mahasiswa fakultas Mipa, semester lima yang terlihat manis dan lugu itu telah menarik perhatian Angga. Wajah bingungnya saat itu membuat seorang Angga, laki-laki yang terkenal tidak mudah dekat dengan perempuan datang menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu?” sapa Angga saat itu. Tanpa berani menatap mata Angga, gadis manis itu menceritakan masalahnya, dia telah kehilangan kartu anggota perpustakaan, padahal dia harus mencari buku referensi untuk tugasnya. Anngapun menawarkan diri untuk membantu meminjamkan kartunya. Nadira adalah gadis yang tidak mudah bergaul, sehingga dia tidak punya banyak teman, dia hanya memiliki beberapa teman saja, itupun teman satu kelasnya. Tempat tinggalnya tidak jauh dari kampus, setiap hari dia berangkat dengan naik motor untuk kuliah dan pulang setelah kuliah usai, begitulah Nadira, gadis pintar yang lugu dan manis.
Setelah
pertemuan pertama itu, berlanjut pada pertemuan berikutnya di perpustakaan.
Nadira si kutu buku dan Angga yang mempersiapkan diri mengikuti tes untuk mendapatkan
beasiswa sekolah di Jepang selalu mengunjungi perpustakaan. Mungkin
perpustakaan adalah tempat paling nyaman
bagi mereka dibandingkan nongkrong di kantin atau café dekat kampus. Walau hanya bertegur sapa ternyata membuat
mereka merasa suka, dan akhirnya mereka sepakat untuk membawa hubungan tersebut
menjadi lebih serius. Dua bulan, waktu yang cukup bagi mereka untuk memutuskan
melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, menikah.
Kedua orang tua mereka sudah merestui niat mereka untuk menghalalkan hubungan dan menyempurnakan ibadah. Namun niat mereka harus ditunda. Dikarenakan Angga mendapat kesempatan belajar di Jepang selama 2 tahun. Pemberitahuan itu datang setelah ujian yang diikutinya menyatakannya lulus. Keputusan telah diambil, kedua keluarga itu sepakat untuk menunda acara pernikahan sampai Angga menyelesaikan belajarnya di Jepang. Karena kepergiannya tersebut sebagai syarat dia diterima di sebuah perusahaan ternama di Jakarta milik pemerintah Jepang. Sehingga sayang kalau dilewatkan.
Bulan
kemarin seharusnya menjadi bulan terakhirnya di Jepang dan minggu ini seharusnya dia sudah kembali ke Bogor. Namun
sejak dua bulan kemarin Angga tidak mengirimkan kabar berita sama sekali. Pesan
yang dikirimkan Nadirapun tiada balasan. Saat Nadira meneleponpun tidak pernah
diangkat. Ini yang merisaukan hati Nadira.
“Dir,
kok bengong sih, mikirin Mas Anggamu ya?” sapa Zilla teman satu kelasnya yang
barusan keluar dari perpustakaan. Nadira tersenyum malu karena ketahuan. ‘Udahlah,
ndak usah dipikirin, kalau jodoh pasti bersatu” kata Zilla menghilangkan
kegundahan Nadira. “Duluan ya, nggak usah melamun Dir . . . kesambet hantu
pohon ini ntar. “kata Zilla sambil berlalu meninggalkan Nadira.
Betul
kata Zilla, kalau jodoh tak akan kemana.
Tapi hati ini tak dapat dibohongi. Kenapa di saat terakhir seperti ini mas
Angga malah tidak berkirim kabar. Dua tahun telah mereka lalui dengan penuh
kesabaran, memendam sejuta rindu dan berharap saat waktunya tiba, mereka akan
bersama selamamya. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Dahulu setelah dua
bulan kami memutuskan untuk membangun hubungan yang serius,setelah perkenalan,
namun kini kita harus berpisah untuk sementara waktu demi masa depan kita berdua.
Berdua, benarkah?
Dengan hati yang tak menentu, Nadira mengambil motornya dan pulang kerumah. Serasa tiada gairah dan semangat lagi untuk melanjutkan kuliahnya hari ini.
Sesampainya
dirumah, Nadira disambut ibunya yang sedang berbincang dengan kakaknya, Bagus.
“Kok
sudah pulang nduk, biasanya hari Rabu pulangmu setelah dhuhur.”
“Nggak semangatlah bu, lha mas Angganya menghilang entah kemana, mungkin aja sudah punya penggantinya Dira” Ucap kakaknya sambil melihat Nadira yang diam tak merespon sedikitpun sapaan ibu dan godaan kakaknya. Dia langsung menuju kamar tidurnya dan mengunci pintu, sebagai tanda tak mau diganggu. Tanpa mengganti bajunya, Nadira mulai menulis diari yang selalu menemaninya selama dua tahun ini. Ya, kesukaannya menulis tumbuh seiring rasa kangen dan sayangnya kepada Angga, sang pujaan hati.
Dear
diari,
Aku
tak tahu apa yang sekarang terjadi. Kenapa kabar darinya sudah tak ada lagi. Tidak
tahukah dia, kalau ada sepotong hati yang menanti disini. Aku tahu dia tak akan
bohong dengan janjinya, dia tak akan dusta dengan ucapnya. Namun kenapa disaat
hati ini mulai meragukan semuanya, kenapa disaat angan ini membayangkan istana
bahagia, dia pergi tak tahu rimbanya, tanpa kabar, tanpa berita.
Dear
diari,
Sedangapakah
dia disana?apakah dia juga memendam rasa untuk bersua?tolong bantu aku
menghilangkan rasa curiga yang mendera, tolong bantu aku mencabut segala
prasangka. .
Apakah
dia
Tak
sanggup Nadira meneruskan tulisannya. Airmatanya sudah tak dapat dibendung
lagi. Bantal yang didekapnya basah oleh lautan air mata yang mengalir dengan
derasnya. Seorang gadis manis yang baru pertama merasakan cinta, hatinya
terluka dalam, sangat dalam. Hari itu dilaluinya dengan mengurung diri di kamar.
Tak digubrisnya suara ayahnya, ibu juga Bagus, kakaknya, yang sedari tadi
mengetuk dan memanggil namanya. Dia hanya tak ingin semua orang tau rasa gundah
di hatinya, tak mau menjawab sejuta tanya yang ditujukan kepadanya. Dia hanya
ingin diam dan menangis untuk meredam
gejolak di hatinya. Malam itu Nadira membawa semua dalam mimpi, berharap ada
Angga yang datang menjawab semua tanya.

Komentar
Posting Komentar