Calon Imam pilihan orang tua. (Bagian 3)

 

Calon Imam pilihan orang tua. (Bagian 3)

 Oleh: Umi Maghfiroh


Semua orang terlihat gembira, keluarga dan sanak saudara dekatnya, itu yang dirasakan oleh Nadira, tanpa mereka pedulikan  hati dan perasaannya. Ya Alloh, bantu hamba untuk menjalani ini semua, do’a Nadira ditengah kepatuhan kepada orang tua. Dia terus memegang dan memandangi handphone dengan tatapan nanar. Tak ingin dia memperlihatkan kegalauan dan kegundahan hatinya di mata orang-orang yang hadir disitu. Nadira duduk di kursi meja rias di dalam kamarnya sambil tersenyum menerima ucapan selamat atas perjodohan ini. Dia harus mulai belajar menata hati untuk menerima semuanya.  Tak lama kemudian bu Rini menghampiri Nadira  untuk meminta bersiap-siap karena tamu yang ditunggu sudah hampir sampai. Dengan berat hati Nadira mencoba menerima perjodohan ini demi menyenangkan hati kedua orang tuanya juga mengharap ridho Alloh agar semua diberi kemudahan. Dia memandang sebentar ke cermin untk melihat wajahnya yang menahan lara dan kecewa. Dia beranjak keluar kamar dengan perlahan. Tak rela hatinya untuk terlibat pada acara malam ini karena masih ada setitik asa yang berharap semua ini tak nyata. 

Tak lama kemudian terdengar suasana ramai yang menandakan tamu yang ditunggu sudah datang.

“Assalamu’alaikum . . . ..” terdengar suara salam yang diucapkan bersama-sama.

“Wa’alaikum salam . . .’ sepertinya pak Ilham dan bu Rini yang menjawab salamnya, “Silahkan masuk . . . “

Bergegas bu Rini ke kamar Nadira.

“Nduk, tamunya sudah datang, ayo keluar . . . disambut tamunya, ayo.”kata bu Rini  terdengar bahagia sambil memegang tangan Dira dan menuntunnya keluar. Dengan perlahan Nadira keluar kamar dan menundukkan pandangannya tanpa menghiraukan pandangan orang-orang yang sepertinya bahagia diatas penderitaannya. Nadira mengambil tempat duduk di samping mbak Merry, yang agak jauh posisinya dari para tamu. Sengaja dia tidak mau mendekat dengan para tamu. Namun bu Rini tidak mempermasalahkan sikap Nadira. Tak sedikitpun Nadira menghiraukan para tamu, dia terus memandangi gawai yang digenggamnya dengan erat seolah-olah tak mau berpisah. Dipandanginya sesosok wajah yang ada di gawainya, wajah Angga. Drrrttt . . . bergetar handphone Nadira, ada satu pesan masuk, dilihatnya pesan itu dengan hati yang hancur.

“Assalamu’alaikum Dira, apa kabar?” sebuah pesan dari Angga.

Tak kuasa airmata Nadira jatuh bersamaan dengan hanphone di tangannya. Kenapa kabar yang selama ini ditunggunya, kali ini malah membuatnya bersedih. Dipandanginya terus pesan itu tanpa dibalasnya. Engkau terlambat mas Angga, jerit hati Nadira menjawab pesan dari Angga. Ingin rasanya Nadira masuk kemamar dan menangis, menumpahkan semua perasaan yang dideritanya saat itu. Mungkinkah perjodohan ini dibatalkan?

Tibalah pada acara perjodohan antara dua keluarga yang menginginkan ke dua putra-putri mereka terikat oleh ikatan suci karena Alloh.

‘Maksud kedatangan kami malam ini, ingin melamar putri bapak, nak Nadira Auliya untuk dijadikan istri putra kami, Angga Wijaya, kami sangat berharap semoga lamaran kami malam ini bisa diterima.” Ucap seseorang mewakili keluarga lelaki yang mau melamar Nadira.

Tersentak Nadira mendengar kata Angga Wijaya. Dia kaget, dilihatnya sesosok lelaki yang duduk bersila agak jauh dengannya melemparkan senyum indahnya. Angga Wijaya, lelaki yang sangat dirindukan dan diharapkan kedatangannya.  Ternyata dia menjawab semua pertanyaan dan resahnya dengan datang bersama kedua orang tuanya untuk melamar seperti janjinya dua tahun yang lalu. Tak terasa air mata bahagia mengalir turun dari pelupuk matanya. Senyuman lelaki diseberang sana seakan-akan menjadi penyejuk hati yang selama ini meradang karena menahan rindu. Satu pertanyaan yang ada dibenak Nadira, siapa yang merencanakan semua ini? Mata Nadira langsung tertuju pada Bagus, kakaknya yang sudah sedari tadi melihatnya dengan senyum penuh kepuasan karena sudah mengerjai adiknya. Awas ya mas Bagus! Ancam Nadira dalam hati.

“Terima kasih atas niat baik bapak Joko Susanto untuk melamar putri kami, tapi ma’af, untuk keputusannya, kami serahkan kepada putri kami, Nadira . . ..” jawab pak Ilham, sambil menunjuk Nadira yang malam itu terlihat sangat bahagia.

“Nduk, gimana, apakah kamu bersedia menerima lamaran dari nak Angga untuk jadi suamimu?, semua terserah kamu . . .”. tanya ayah Nadira.

“Iya yah, Nadira bersedia menerima lamaran mas Angga. . . .” jawab Nadira tersipu dan bahagia disambut oleh tepuk tangan dan ucapan Alhamdulillah dari para tamu yang hadir pada acara tersebut. Saat itu juga, kedua orang tua Angga dan Nadira menentukan tanggal pernikahan mereka yang diputuskan bulan depan.

Setelah acara selesai, Nadira mencari Bagus, karena semua ini adalah rencana kakaknya yang sengaja menyembunyikan kabar kedatangan Angga. Bagus sudah merencanakan semuanya didukung oleh bu Rini juga Angga,  karena ingin memberi surprise adeknya yang sejak beberapa hari belakangan terlihat gelisah. Nadira terlihat sangat bahagia, jauh berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Ternyata calon Imam yang dipilih orang tuanya adalah calon imam pilihan hatinya juga.

 

 


SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi