Anak Pinter
@ Pentigraf
Apa
yang dilakukan orang tua, akan menjadi contoh bagi anaknya. Putra terkecil
kami, Dimas, 4 tahun, tergolong anak yang cerdas. Dia mudah sekali mencerna apa
yang dilihat dan didengar, bahkan terkadang celotehannya menjadi kartu truf
untuk mematikan langkah kami. Ada satu kebiasaan yang selalu kami lakukan saat
dia melakukan satu kebaikan, reward pelukan dan ciuman sambil mengatakan,"Anak
baik". Dengan begitu akan membuat dia senang dan semangat untuk melakukan
kebaikan lainnya, membantu saya, mamanya juga kakaknya. Saat kami melanggar
aturan yang sudah disepakati maka dengan serta merta predikat tidak baik
langsung dia sematkan. Jadilah kami harus berhati-hati dengan segala perilaku
kami, karena ada satpam!
Hari
itu, mbak Ika, tetangga yang mengasuh Dimas sedang ada acara keluar kota,
kakaknya punya hajat. Sedangkan istriku ada rapat penting dikantornya, jadilah
saya yang harus menemaninya hari ini. Kebetulan hari ini saya lumayan longgar
karena kemarin urusan kantor sudah saya bereskan.
Saya
ajak Dimas jalan-jalan di playground sebuah mall. Segala makanan dan
minuman yang diminta sudah saya belikan agar mudah saat nanti dia minta jajan. Karena capek, kami duduk di kursi yang memang
sudah disediakan. Tiba-tiba ada desakan dari dalam diri untuk buang air kecil,
waduh. . . nggak lihat sikon banget sih ini datangnya! Kulihat ada seorang
perempuan berjilbab yang tidak jauh dari kami, sepertinya dia anak kuliahan dan
sedang duduk sendiri. Setelah
berbasa-basi sebentar dan meminta bantuannya untuk menjaga Dimas, karena saya harus
ke toilet, dia tidak keberatan, syukurlah. Segera saya bergegas menuju toilet
yang ada di playground tersebut. Setelah selesai, dari jauh kulihat si
mbak menyuapi Dimas, mereka ngobrol sambil tertawa senang seperti sudah lama
kenal. Kuhampiri mereka, namun langkahku terhenti saat Dimas menarik tanganku sambil
berteriak menunjuk si mbak "Pah
mbaknya baik lo. . . dicium dong? " Ahh Dimas!

Komentar
Posting Komentar