Tagur Hari ke 17. Terima kasih mbah . .

 


#kisah lama yang belum sempat terunggah

Beberapa hari yang lalu, tepatnya di hari terakhir Ramadhan. Ketika saya membeli sate ayam yang letaknya tidak jauh dari rumah orangtua, saya dapatkan sebuah kisah yang sangat inspirative dari seorang kakek yang kebetulan makan sate ayam ditempat yang sama.

Usia beliau kurang lebih 75 tahun, namun pembawaan beliau masih terlihat sehat dan aktif. Di umur beliau yang sudah lanjut, beliau tetap bekerja. Beliau tidak menyerah dan berdiam diri menunggu belas kasih putra putrinya yang berada diluar kota.  Setiap hari beliau mengambil susu bantal untuk dijual di pusat kota. Dengan jarak kurang lebih 7 km dari rumah, beliau mengayuh sepeda di pagi hari dan pulang jam 4 sore atau saat dagangan beliau habis. Saya lihat sebuah sepeda tua tersandar di dinding rumah penjual sate ayam. Jadi menangis sayanya mengingat banyaknya keluhan yang seringkali terlontar dari bibir ini karena alasan capek . . Yaa Robb, ampuni semua dosa ini . .

Ada yang menarik dari cerita beliau. Yakni alasan yang menjadikan sebab beliau enggan berhenti untuk bekerja. Beliau mengatakan bahwa uang hasil jualan setiap hari itu tak seberapa jumlahnya dibandingkan uang dari para dermawan yang bermurah hati saat membiarkan uang kembalian untuk beliau miliki. Harga 1 susu bantal adalah Rp. 3500,00 namun banyak sekali yang memberikan uang Rp.5.000,00 atau Rp.10.000,00 tanpa minta kembalian. Bahkan ada yang dengan sengaja melebihkan uang pembayarannya. Beliau mengatakan bahwa apa yang beliau dapatkan dari usahanya berdagang setiap hari adalah kemurahan Alloh untuknya. Beliau merasakan betapa sayangnya Alloh atas segala yang beliau terima. Beliau tidak mau tergantung kepada siapapun. Beliau akan terus berusaha sendiri untuk menghidupi istrinya dirumah melalui tangannya sendiri. Keyakinan yang selalu beliau pegang adalah, “rezeki ki wes enek seng ngatur, pokok gelem kerjo yo diparingi, kerjo seng halal, ndungo, nyuwun karo seng kuoso, mesti dikabulne”(rezeki sudah ada yang mengatur, selagi mau bekerja pasti akan diberi rizki. Carilah pekerjaan yang halal, berdo’a minta kepada Alloh, pastilah dikabulkan). Sungguh, bagaikan cambuk yang menyadarkan saya, keyakinan beliau yang sangat kuat atas kasih sayang Alloh dan kepasrahan yang totalitas membuat saya malu. Terkadang masih terbersit kekesalan pada diri saya, berkeluh kesah pada sesama manusia tanpa menyadari bahwa semua sudah sesuai aturanNya. Kurang bersyukur apa coba dengan yang sudah Tuhan berikan. Terima kasih mbah. . . atas pelajaran berharga hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi