#Tagur Hari ke 16, Sarung akung

 


Akung, begitu saya memanggilnya. Sosok lelaki yang sangat saya kagumi. Beliau ayah saya, namun saya lebih sering memanggil akung, karena anak saya yang saat itu masih kecil, pernah memanggilnya "ayah" karena meniru saya. Beliau adalah sosok panutan saya. Kedisiplinan dan tanggung jawabnya saya acungi jempol dua. Saya ingat banget bagaimana beliau mencambuk saya dengan sebatang kayu ketika tiba waktu sholat dan saya masih bermain.

Benar kata pepatah bahwa perlakuan ayah ke anak akan berbeda dengan perlakuan kakek ke cucunya. Kasih sayang beliau kepada cucu-cucunya menjadikan beliau selalu dicari saat sedang bermain ke rumah beliau. Ajakan bermain apa saja akan beliau lakukan asal cucunya bahagia. Tak jarang cucunya berebut untuk sekedar mendapatkan pelukan, ciuman atau usapan di punggung. Ya. . beliau selalu mengusap punggung cucu-cucunya saat memeluknya. Tak lengkap rasanya bagi mereka tanpa bertemu dan memeluknya.

Putri sulung saya adalah salah satu fans berat akung. Sejak kecil, mulai umur 3 tahun dia selalu dekat dengan akung dan selalu tidur ditemani akung.  Saat itu ayah saya sudah purna tugas.  Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan akung, yakni menyelimutinya dengan sarung beliau. Saat itu, eyang, begitu cucu-cucunya memanggil ibu saya, mengingatkan akung, "Kung, mboten usah diselimuti damel sarunge jenengan, benjing ndak saget pisah kaleh jenengan. . . ".

Tak pernah sekalipun saya memikirkan ucapan ibu. Ternyata sekarang hal itu terbukti. Saat pertama kali  putri sulungku berpamitan akan  berangkat ke Pondok,  akung bertanya kepadanya, " Nduk Zil, nyuwun di sangoni piro iki. . . ". Tanya beliau sambil mengambil dompet dan siap memberikan berapapun yang di minta cucunya itu.

Dengan tenang anakku menjawab" Kung, aku minta sarunge akung yang kotak-kotak aja boleh? tak bawak e ke pondok".

"Sarung seng endi lo nduk? ", akung terlihat bingung.

"Yang biasane di pakek akung buat ngipasi pas aq bobok itu lo kung"

"O seng adem kui to nduk? ", sambil mencari sarung yang di maksud anak saya.

"Iya kung, itu saja. . ", dia tersenyum. Terlihat ada bahagia di raut wajahnya. Ternyata kebiasaan akung sejak dulu, selalu menggunakan sarung kotak-kotak itu untuk mengipasinya sampai tidur. Itu yang diceritakan eyang tentang kisah sarung kotak-kotak itu.

Dua tahun yang lalu, ketika pertama kali sampai dipondok, saya melihat semua teman sekamarnya membawa selimut bulu yang hangat. Namun dia tetep kekeh ketika saya tawarkan untuk  mengantarkan selimutnya  yang dirumah, " Nggak usah mah, aq pakek sarunge akung aja, itu lo dah anget banget".

Yaa Alloh. . . begitu besarkah arti sarung akung bagimu. Sampai sekarang sarung itu selalu dibawa kemanapun dia pergi. Seakan dia tak mau jauh dengan akungnya. Semoga sarung akung itu akan mengantarmu menjadi sosok yang kuat seperti akung, Aamiin. Cerita ini benar adanya, apa karena sarunge akung. . . wallohu a'lam.

 

#foto tersebut saya ambil saat dia akan balik pondok minggu kemarin, sarung akung berada tumpukan paling atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi