Sepenggal cerita


 

Repost, real story.

Beberapa hari yang lalu, saya bersama teman guru memeriksakan mata di RS Bhayangkara.  Sebagai pengajar mata adalah modal utama, jadi pastilah mendapat  perhatian yang istimewa  saat terasa ada sesuatu yang tidak seperti biasanya.

Sesaat setelah sampai di tempat tujuan, ternyata antrian sudah sangat mengular,  pdhal jam  masih menunjukkan pukul 6.30. Pemeriksaan akan dimulai pada pukul 8, maksud hati ingin datang lebih awal agar bisa plg lebih awal juga krn terbatasi oleh jam mengajar. Tentu saja kamipun harus mengantri seperti yang lain. Kalau di hitung mungkin kami adalah pengantri nomer 20an, bisa di bayangkan berapa lama kami harus berada di situ. Jadilah kami telephone guru piket untuk meminta ijin sampai selesai urusan ini.

Disaat kami mengantrilah kami mendapatkan pelajaran berharga. Kami bertemu dengan seorang ibu yang luar biasa hebat.  Ada cerita menarik yang bisa kami ambil hikmahnya. Beliau adalah seorang pemilik sebuah Yayasan di daerah Bandung, Tulungagung. Sebagai seorang ketua Yayasan beliau menceritakan pengalaman hidupnya sebagai seorang ibu dengan 3 putra yang semuanya sudah mapan. Putra pertama seorang TNI, ke 2 bekerja di Jakarta di kantor BPK dan yang terakhir menjadi dosen tetap di sebuah universitas negeri d Malang. Beliau bercerita bahwa kepandaian (kognitif) itu adalah hal yang biasa, karena ke 2 putranya lulusan  skolah terbaik d Tulungagung. Yang membuat beliau bangga justru putrinya yg ke 3, sedang  mondok di Ponorogo. Beliau merasakan betapa didikan pondok menjadi Oase di tengah peradaban modern yang mulai  meninggalkan etika ketimuran. Ajaran di keluarga beliau, etika  masih sangat di junjung. Masih menurut beliau, orang berpangkat (pejabat) itu harus meninggalkan jabatannya saat berada di rumah, karena di rumah merekan adalah seorang  anak, terlepas apapun jabatannya. Tata krama dan kesopanan tetap harus di berlakukan kepada yang lebih tua maupun kepada yang lebih muda. 

Adalah hak untuk semua anak mengekspresikan kemampuannya dengan memiliki cita2 yang tinggi,  namun setelah kembali pada keluarganya maka tinggalkan segala urusan kepangkatan untuk mengabdi kepada kedua orangtuanya. Suatu 'ajaran' yang patut di adopsi di tengah-tengah budaya timur yang mulai menghilang menjadi perilaku apatis.

Setinggi apapun jabatan kita, saat di rumah kita tetaplah anak bagi ke 2 orangtua kita, suami bagi istri kita (dan sebaliknya), ayah buat anak kita juga warga untuk masyarakat.  Jabatan hanya berlaku untuk kita di tempat kerja.

Tak terasa, waktu menunggu antrian yang lama menjadi waktu yang berharga buat saya khususnya karena mendapatkan satu ajaran yang luarbiasa.

Terimakasih ibuk. . . engkau mengajarkan saya betapa pentingnya menempatkan diri sesuai dengan porsinya. .  .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi