Hari ke 5 "Curhat aja! "
Kemarin,
di ruang guru, ada sebuah diskusi yang menarik, menurut saya.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa, banyak sekali ditemukam problematika pembelajaran daring
seperti sekarang ini. Yang paling sering terjadi bukan berasal dari aplikasi
atau sistemnya namun lebih pada pelaksanaan belajarnya, dalam hal ini, anak dan
orang tua sebagai pengajar di rumah.
Beredar
di dunia maya, bagaimana peran guru yang digantikan oleh ibu, ternyata menjadi
preseden yang kurang baik bagi jalannya pembelajaran secara on line. Keluhan
anak-anak melalui WA grop maupun japri, memenuhi layar chat di hp bapak/ibu
guru. Rasanya, kebosanan belajar daring dinrumah sudah menghantui mereka.
Pertanyaan "kapan masuk bu? ", bertubi-tubi mereka ditanyakan, dan
jawaban"tunggu informasi dari sekolah ya", berulang kali di forward
dari satu nomor ke nomor lainnya.
Indikasi
lain yang terlihat dengan jelas, manakala tugas yang dikirim ke E Learning
sudah mulai turun peminatnya. Pada awal
pembelajaran, anak-anak sangat antusias mengikuti dan mengerjakan tugas yang
diberikan. Sekarang, semua tugas yang diberikan sudah mulai berkurang yang
mengerjakan. Ditambah masalah jaringan internet yang kurang bagus
dimasing-masing daerah.
Ada
sebagian guru yang memberikan tugasnya dengan luring, karena mereka bingung
menghadapi anak-anak yang tidak mengerjakan tugas akibat gangguan jaringan.
Dari hasil tugas yang terkumpul, ada 1 yang menarik perhatian kami para guru.
Tugas tsb dikerjakan oleh orang lain, karena ada 2 tulisan yang berbeda.
Setelah dipanggil si anak tersebut, ternyata dia mengakui bahwa tugasnya
dikerjakan oleh ibunya. Saat dikonfirmasikan kepada ibunya ternyata ibunya juga
mengakuinya. Sesaat saya berfikir,"sudah seberapa bosankah anak-anak
dengan keadaan ini?", hingga mengerjakan tugas off line saja enggan
mengerjakan. . .
Sejujurnya,
kamipun menginginkan kegiatan belajar dilakukan dengan tatap muka. Selain
proses transfer knowledge, pada kegiatan tatap muka ini guru bisa memberikan
motivasi dan penguatan spiritual. Hal terakhir itulah yang tidak bisa dilakukan
secara daring. Kecerdasan intelektual tanpa dibarengi dengan kecerdasan
spiritual niscaya akan sangat membahayakan. Banyak kasus penyimpangan dilakukan
oleh mereka yang "cerdas" secara kognitif namun tidak dibarengi
dengan kecerdasan afektif. Semoga anak-anak kita dijauhkan dari segala
keburukan. Dan semoga, Alloh menyegerakan keadaan ini. Semua bisa berjalan
seperti semula, aamiin. . .

Komentar
Posting Komentar