Hari ke 12. Cukup Pahami saja . . .
Pada zaman saya MTs/SMP di tahun 1990 dulu ada grop band dari
Boston, Amerika Serikat -kalau sekarang boy bandlah- yang sangat fenomenal. New
Kids on the Block (NKOTB), nama boy band yang beranggotakan Donnie Walberg, kakak
adek Jordan dan Jonathan Knight, Danny Woodserta si imut Joe Mclntyre. Saya
masih ingat saat itu, betapa saya juga teman-teman sangat mengidolakan mereka.
Mulai dari buku, tempat pensil, map snel juga poster saya punya. Tidak pernah
lelah memburu pernak-pernik yang berkaitan dengan boy band tersebut. Yang
seumuran saya mungkin masih ingat, atau bahkan berperilaku sama dengan saya . .
.
Tommy page menjadi idola
saya selanjutnya saat MA/SMA, poster besar terpampang dikamar saya. Saat kuliah
pun, poster pemain bola menjadi pajangan selanjutnya. Saat itu saya adalah
seorang Juventini yang mengidolakan Alexandro Del Piero, straker andalan
Juventus yang bekerjasama dengan Gianlugi Buffon sebagai penjaga gawangnya. Itu
dulu . . .
Bumi itu bulat! Saya
semakin percaya dengan pernyataan itu. Beberapa tahun yang telah berlalu, kini
terulang lagi. Puri sulungku, sangat mengidolakan boy band asal Korea, yang
biasa dijuluki K-Popers. Mulai dari buku tulis, tempat pensil, cashing HP, tas
laptop, album lagu juga poster menjadi koleksinya. Saya ndak pernah ngasih uang
untuk itu semua. Lantas dari mana dia bisa mendapatkannya? Ternyata sama dengan
saya saat itu, menyisihkan uang! Rela tidak membeli jajan demi apa yang dia
inginkan.
Pada awalnya, suami agak
marah melihat kamar kakak yang penuh dengan poster cowok-cowok ganteng (takut
tersaingi mungkin, karena hanya suami saya satu-satunya lelaki dirumah). Beliau
menanyakan banyak hal tentang isi kamar si kakak. Melihat situasi yang
memojokkan kakak, saya tarik beliau ke kamar. Kami diskusikan tentang hal ini.
Saya bilang, “mas, gak usah emosi, maleh ndang tuwek, berkurang engko gantenge
. . “, sambil mengeluarkan jurus maut, memeluknya. Kami memang berbeda, suami
saya adalah sosok yang pendiam dan tidak neko-neko, tidak ekspresif seperti
saya. Saat senang beliau hanya tersenyum, tidak tertawa lepas seperti saya. Sehingga
mudah untuk meredam amarahnya, tinggal mencium dan memeluknya . . , itu jurus
andalan saya.
Saya ceritakan keadaan
kakak yang seperti itu adalah wajar, tentunya dengan menceritakan saya waktu
seumuran dia. Saya yakinkan kepada beliau, bahwa pada masanya nanti akan
berhenti. Kita jaga dan awasi saja, jangan sampai melampaui batas. Biarkan
anak-anak mengekspresikan keinginannya. Semua ada waktunya. Cukup pahami saja…
hadapi dengan senyuman, karena suatu saat akan jadi kenangan yang indah dan tak
akan terlupakan . . . . .

Komentar
Posting Komentar