ADAB MURID: AKU dan MEREKA

 

             Alhamdulillah, tak terasa perjalananku membersamai siswaku sudah berjalan di tahun ke- 22. Masih teringat saat pertama aku bersua dengan meraka di bukan Juli, tahun 2003. Aku adalah seorang guru Bahasa Inggris di MTsN 6 Tulungagung, yang saat itu bernama MTsN Karangrejo. Sebuah sekolah yang berlatang belakang agama Islam, dimana saat itu, menjadi sekolah yang difaforitkan bagi warga sekitar. Siswa disekolah kami pernah mencapai seribu lebih, dan kami masih menolak beberapa siswa yang belum memenuhi standar minimal hasil test PPDB.

            Bisa dibayangkan kerja keras kami untuk melaksanakan kewajiban mendidik dan membimbing mereka selama di sekolah. Suka duka dalam kegiatan belajar sudah saya rasakan. Saat berhadapan dengan mereka menjadi pengalaman yang menegangkan, menantang sekaligus menghibur. Sebagai guru mata pelajaran yang mengampu 5 kelas, tentu saja, saya akan berhadapan dengan kurang lebih 200 siswa dengan 200 karakter yang berbeda, dengan 200 latar belakang keluarga yang berbeda, juga dengan 200 niat keberangkatan ke sekolah yang berbeda pula. Namun, seorang guru yang sekaligus pendidik adalah seorang “dalang” yang sudah dibekali dengan berbagai macam “senjata” untuk menghadapi segala situasi. Guru merupakan seorang aktor yang ulung, dimana dia bisa berperan sebagai dokter saat siswanya sakit, sebagai polisi saat terjadi keributan dikelasnya, sebagai hakim yang harus bisa memutuskan permasalahan siswanya, juga sebagai psikolog tempat curhat siswa yang memiliki masalah, dan masih banyak lagi. Saat itu, sempat terpikir olehku, betapa berat beban dan tugas seorang guru dengan bayaran yang tidak seberapa. Pernah juga berpokir untuk “menyerah” namun aku juga berpikir, kalau semua guru menyerah dengan keadaan, lantas siapa yang akan mengarahkan mereka untuk menemukan segala kebaikan yang belum mereka temukan. Satu hal yang bisa aku lakukan saat hati mulai lelah adalah mengenang kembali kelucuan mereka yang selalu bisa membuatku tertawa dan membuatku sadar bahwa berhadapan dengan mereka bagaikan menaiki rolercoster yang kadang membuatku bersedih dan lelah namun juga menghibur. Kelucuan yang tulus, yang tidak pernah dibuat. Teringat juga dengan kebaikan mereka saat berebut untuk menyambut kedatanganku dikelas dengan membawakan buku juga kotak pensilku. Membantu membawakan buku lembar kerja teman-temannya yang dikumpulkan ke ruang guru. Entah kenapa, kenangan indah itu sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Tak bisa dipungkiri, perkembangan jaman berjalan dengan sangat pesat. Segala hal yang berlabel “manual” sudah tidak lagi dilakukan dengan dalih ketinggalan jaman. Semua orang dininabobokan dengan hal-hal instan. Dimudahkan dengan teknologi yang menggantikan hampir seluruh peran manusia tanpa disadari menggeser moral dan etika. Banyak peristiwa dan kejadian yang tidak baik yang diakibatkan hilangnya etika dan moral. Hal-hal yang dahulu dianggap tabu, menjadi hal yang lumrah dan wajar untuk dilakukan. Begitupun perilaku siswa sekarang yang sudah sangat meresahkan kami sebaga guru. Ditambah lagi, peran guru yang dianggap kurang maksimal dalam membimbing siswa disekolah, sehingga seringkali mereka berbuat tidak baik. Lagi-lagi guru yang menjadi kambing hitam. Para orang tua menilai bahwa tindakan tegas yang dilakukan guru adalah sebuah bentuk kekerasan bahkan dianggap penganiayaan. Orang tua selalu membela anaknya yang sudah jelas bersalah dan melanggar aturan. Alhasil, si anak merasa punya “tameng” saat melakukan kesalahan dan tidak takut lagi untuk mengulangi kesalahan yang sama. Aturan yang sudah lama dibuat yang dahulu tidak menjadi masalah, saat ini dianggap sebuah pelanggaran HAM, misalnya merapikan rambut siswa di sekolah dengan dalih, “apakah rambut panjang mengganggu pelajaran?” Padahal kerapihan adalah salah satu bentuk disiplin dan tanggung jawab diri yang bisa membentuk karakter seseorang untuk selalu mematuhi aturan dimanapun mereka berada.

                 Fenomena kelakuan anak-anak jaman sekarang sudah sangat meresahkan. Ditambahlagi ada dukungan dari KPAI yang acapkali melindungi kesalahan anak-anak karena dianggap melanggar hak anak. Saat pendisiplinan oleh guru dianggap tindakan penganiayaan, teguran dianggap bentuk kekerasan, maka kita akan melihat mereka sepuluh tahun lagi menjadi pribadi yang sulit dikendalikan. Sekolah yang dianggap tempat untuk membimbing dan mendidik anak agar bisa mengahadapi berbagai masalah dalam kehidupan, sudah kehilangan perannya, maka, kemana lagi mereka akan bisa belajar. Harapan semua orang agar setiap anak bisa menjadi manusia yang berguna dan tangguh dimasa depan, bukan hanya tanggung jawab guru disekolah, tapi, ini adalah tanggung jawab bersama antara orang tua dan guru. Orang tua sebagai pendidk pertama dan utama bagi setiap anak, harus mengambil perannya dirumah karena merekalah yang akan membentuk pribadi si anak. Sesuai sabda Nabi Muhammad saw, “Setiap anak terlahir dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang akan menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, atau Majuzi” (HR. Bukhari dan Muslim), dari sini bisa diambil benang merahnya, bahwa orangtualah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi kepada anak-anaknya, mengawasi semua yang dilakukan menjadi kewajiban orang tua. Guru menjadi pelengkap atas kekurangannya. Mengajarkan ilmu yang tidak didapatkan dirumah. Membimbing dan mengarahkan pada “rel kebenaran” yang telah dibangun oleh orang tuanya. Dengan begitu,niscaya anak-anak akan menjadi pribadi yang taat pada Tuhannya, orang tua juga gurunya.

                 Belum terlambat jika semua pihak bisa bekerjasama. Perlu negara yang membuat aturan yang mendukung terciptanya kedisiplnan disekolah, orang tua yang mempercayakan urusan pendidikan kepada pihak sekolah, dan guru yang bisa menjadi membimbing kebaikan dan teladan bagi siswanya. Ajarkan pada semua putra-putri kita untuk taat semua aturan yang ada, dimanapun mereka berada. Mengajarkan pada mereka untuk “menerima segala konsekwensi/akibat dari sebuah pelanggaran”. Normalisasikan aturan “kalau tidak mau dihukum, ya jangan melanggar”. Teringat parenting sayyidina Ali bin Abi Thalib, ra.Perlakuan kepada anak dibagi menjadi 3. Saat anak berusia 0-7 tahun, perlakukan mereka seperti raja. Limpahi mereka dengan kasih sayang. Isi tangki cinta dan kasih sayangnya. Ajarkan mereka segala kebaikan untuk bekalnya kelak.Usia 8-14 tahun, perlakukan mereka seperti tawanan perang. Batasi gerak-geriknya, berikan aturan yang tegas dan hukuman saat melanggar, karena sekali tawanan perang lepas, maka tak akan pernah kembali lagi. Tegas bukan berarti keras. Tegas menegakkan aturan yang ada. Reward dan punishment harus mereka dapatkan.  Usia 15 – 21 tahun, perlakukan mereka seperti sahabat. Ajak ngobrol, berbagi cerita. Biarakan dia membuat pilihan untuk hidupnya, juga ajak dia ikut menentukan keputusan keluarga. Insya Alloh akan selamat dunia dan akhirat, Aamiin. 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi