Aku bukan mereka

 Aku bukan mereka 

Oleh: Umi Maghfiroh

Sisca, baru pulang kerja. Dia bekerja di sebuah Bank swasta. Perempuan cantik, berkulit putih bak model itu benar-benar perempuan idaman. Sebelum masuk rumah, dipandanginya rumah yang ada diseberang jalan.  Tetangga yang baru 1 ,minggu  menempati rumah itu telah menyita perhatiannya. Lelaki ganteng yang selalu melontarkan senyum manis dan menyapa dengan hangat saat berpapasan dengannya, telah mengganggu pikirannya.  Entah kenapa Sisca merasa kali ini dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Bagaikan seorang detektif, Sisca seringkali memata-matai tetangganya itu dari lantai atas rumahnya. Dia hafal betul kapan lelaki itu  berangkat kerja, pulang kerja, jogging pagi maupun sore, bahkan waktu dia keluar rumah untuk hal lainnya. Tak jarang adeknya, Mario, yang tinggal dengannya memergokinya sedang memandang lelaki tampan tersebut.

Pagi itu, Sisca berada di balkon rumahnya dengan gawai ditangan terlihat membidikkan kamera HPnya pada sosok lelaki yang sedang berkebun didepan rumahnya.

“Udah, samperin aja, ajak kenalan. Siapa sih yang bisa menolak pesona kak Sisca” ledek Mario sambil berlalu setelah melihat kakaknya berdiri di balkon sambulmemandang ke rumah tetangganya.

“Apaan si Mario. Mau tahu aja urusan kakak.” Sisca tersipu malu mendengar ucapan Mario. Tapi bener juga adeknya itu. Lelaki mana yang bisa menghindari pesona Sisca yang cantik bak model juga mandiri. Huh! Tambah menderu rasa cinta di dadanya. Sisca memang hanya tinggal berdua dengan adeknya, Mario, yang kuliah di kota Bandung dan baru semester tiga di salah satu kampus ternama di kota ini. Mahasiswa fakultas Tehnik itu bercita-cita menjadi seorang arsitek. Sedangkan orang tua mereka berada di Surabaya bersama si bungsu.

Saat ini Sisca merasa telah menemukan jawaban atas do’anya. Setelah satu tahun yang lalu dia dikhianati oleh Bramantyo, kekasihnya yang lebih memilih perempuan lain. Dia tidak menyalahkan Bram, karena kesibukan kerjanya Sisca menjadi jarang meluangkan waktu untuknya. Kali ini dia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi. Nasehat kedua orangtuanya selalu muncul di benaknya,”Sis, usiamu semakin hari semakin bertambah, bukan berkurang, cobalah memikirkan untuk mencari pasangan”. Ibu benar, 28 tahun, tidak muda lagi, batinnya membenarkan nesehat ibunya.

**********

Seperti biasa, Sisca menyempatkan diri untuk berolahraga sebelum berangkat ke kantor. Joging memutari komplek perumahan 3 kali sudah cukup untuk membuatnya basah oleh keringat. Dari arah berlawanan dilihatnya lelaki tampan yang sering mencuri perhatiannya sedang berlari pagi. Hati Sisca berdebar kencang seiring mendekatnya sang pujaan. Senyum termanis disiapkan Sisca untuk menyambutnya.

“Selamat pagi . . . ,” lelaki tampan yang belum diketahui namanya itu menyapa dengan ramah juga senyum menawannya saat berpapasan dengannya.

“Pagi juga . . . ,” Jawab Sisca dengan hati bahagia, bagaikan mendapat undian berhadiah jutaan rupiah. Dipandanginya lelaki tampan itu dengan penuh kekaguman. Oh Tuhan, ijinkan dia menjadi pendampingku. Ijinkan aku membahagiakan orangtuaku. Aku harus bisa berkenalan dengannya. Tapi bagaimana ya? Dia terus memikirkan cara untuk bisa berkenalan dengannya.

*******

 

Hari itu Sisca bersiap untuk berangkat kekantor, pandangan matanya tertuju pada rumah diseberang jalan, berharap lelaki tampan itu juga berangkat ke kantor. Nihil. Mungkin dia sudah berangkat, batin Sisca. Hilman, teman satu kantor yang tinggal beda blok darinya sudah memarkirkan mobilnya. Dia teman karib Sisca sejak SMA, karena itu mereka sudah seperti saudara.

“Ayo, keburu telat,” Himan sudah mununngu di mobilnya. Sisca bergegas masuk ke dalam mobil Hilman. Sepanjang perjalanan Sisca hanya terdiam. Matanya menerawang meskipun pandangannya melihat jalan.

“Sis, tumben diam. Apa apa.?” tanya Hilman dalam perjalanan menuju kantor mereka yang lumayan jauhnya, 45 menit perjalanan.

“Man, bantu aku ya, aku butuh bantuanmu,please . . . ” kata Sisca sambil menakupkan ke dua tangannya didada.

“Oke, bantuan apa yang kamu butuhkan sobat,” kata Hilman membuat mata Sisca berbinar bahagia. Dia menceritakan perasaan yang dipendamnya untuk lelaki tetangga depannya. Dia berharap Hilman bisa membantunya untuk mengenalkannya. Sisca tahu benar Hilman adalah pribadi yang mudah sekali bergaul. Pasti tidaklah sulit baginya untuk berkenalan dengan tetangga barunya itu. Sisca ingin mendapatkan nomor WA lelaki tampan itu. Untuk selanjutnya dia yang akan mengurus semuanya. Hilman hanya diam mendengarkan cerita Sisca. Dia tak habis pikir dengan sahabat karibnya itu. Sepertinya Hilman belum pernah melihat Sisca menaruh hati dan jatuh cinta pada seorang lelaki seperti itu. Yang ada, lelakilah yang selalu mengejarnya, dan Hilman selalu mendapat keuntungan dari hal itu. Karena Hilman sering ditraktir makan juga mendapat hadiah barang karena menjadi mak comblang laki-laki yang mendekati Sisca.

********

Sore itu, ketika Hilman dan Sisca pulang kerja, kebetulan tetangga baru Sisca juga baru pulang kerja. Sisca meminta Hilman turun menyapa sembari meminta no WAnya. Sebagai teman yang baik, Hilman menuruti keinginan Sisca. Dia ingin membuat hati sahabatnya bahagia. Hilman menghampiri tetangga Sisca yang juga baru pulang kerja. Terlihat Hilman terlibat percakapan dengan lelaki itu. Ada tawa dan senyum diantara mereka, benarkan . . . Hilam jago untuk urusan itu, batin Sisca. Entahlah, alasan apa yang digunakan Hilman untuk mengabulkan keinginan Sisca. Tak lama kemudian Hilman kembali sembari mengacungkan HPnya pertanda dia berhasil. Sisca gembira, yess!!. Sesampainya didalam mobil, Sisca meminta HP Hilman untuk melihat nomor WA tetangga barunya. Reza Pratama, nama tetangga barunya itu.

“Dia seorang CEO sebuah perusahaan yang sedang berkembang, Sis, bagaimana?” kata Hilman melaporkan hasil perkenalannya.

Dilihatnya poto profile WA di HP Hilman. Sisca terdiam,  disana ada `seorang perempuan berhijab dan anak kecil diantara mereka. Dia tersenyum dan tahu apa yang harus dilakukannya. “Aku bukan mereka!”, katanya lirih mengisyaratkan ketegaran. Hatinya   kecewa, namun dia sadar, rasa ini tak boleh dilanjutkan. Dia teringat rasa sakit yang ditinggalkan Bram. Dia tak ingin ada perempuan lain yang merasa sakit karenanya. Sisca mengembalikan gawai Hilman, “Terima kasih sobat”. Hilman tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Itu yang aku suka dari mu Sis, kamu selalu melibatkan akal sehatmu dalam mengambil setiap keputusan, tahukah kamu, kusimpan selalu hati ini hanya untukmu, berharap Tuhan akan menyampaikannya kepadamu, suatu saat nanti. do’a Hilman dalam hati.

 

SELESAI



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi