Sawang sinawang. . .
Ungkapan sakti (maksudnya bukan bu
sakti lo ya yang bilang) yang berasal dari bahasa jawa ini sangatlah luar
biasa. Kalau dipahami, ungkapan tersebut berarti saling memandang. Kata “saling”
mengandung makna bukan hanya dilakukan oleh satu orang saja. Sawang sinawang
menunjukkan sebuah perilaku
membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Perilaku ini saya rasa
perlu dilakukan. Berharap akan menumbuhkan rasa syukur atas apa yang kita
dapatkan, sawang sinawang juga akan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Memandang orang lain lebih baik
daripada kita, membuat kita akan terus berusaha memperbaiki diri. Namun apabila
di dasarkan pada nafsu duniawi, maka sawang sinawang malah akan menghancurkan
kita sendiri.
Suatu ketika, saya pernah ngobrol
dengan tetangga saya. Terkadang kami berkumpul di bawah pohon manga di samping
kanan rumah saya. kebetulan di samping rumah saya ada sebuah pohon mangga yang
cukup besar. Dibawahnya disediakan bangku untuk duduk dan bercengkerama. Saat kami
sedang mengobrol, ada seseorang yang bilang kepada saya, "Bu Umi, mbak
icha kok nggak kelihatan to, ndak pernah keluar. Kok penak men,
anakku bendino dolan bingung golek konco".
Saya tersenyum, "kulo malah
pengen nduk niku purun dolanan, sepedahan nopo playon ngoten, ben sehat, mboten
panggah teng griyo tilem, ningali TV, dolanan HP", jawab saya.
"Lek kulo malah seneng bocae
teng griyo, anteng, tenang lekne ketok bocahe". timpalnya.
Saya tidak menjawabnya, sekali lagi
hanya tersenyum manis, manis sekali, sampai tetangga saya terdiam. Sering
sekali saya mendapat pertanyaan yang intinya membanding-bandingkan. Diskusi
panjang kali lebar selalu saya hindari, terutama yang berkaitan dengan faktor pekerjaan
atau ekonomi. Riskan untuk dibahas.
Dari banyak hal akhirnya saya
menyadari. Ternyata apa yang menurut kita salah belum tentu dianggap salah oleh
orang lain. Pun sebaliknya. Terkadang, kita membandingkan diri kita dengan
orang lain, menganggap mereka lebih beruntung dari pada kita. Padahal
seringkali tidak seperti itu. Kita berharap diposisi mereka, namun malah
sebaliknya mereka menginginkan diposisi kita.
Sawang sinawang akan menjadi racun
bagi hati dan pikiran kita selagi rasa syukur tidak menjadi bentengnya. Alloh
sudah memberikan yang terbaik bagi kita. Dia tidak akan memberikan apa yang
kita minta, tapi akan memberikan apa yang kita butuhkan dan terbaik bagi kita.
Semoga kita bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur dengan yang telah
diberikanNya. Aamiin . . .

Komentar
Posting Komentar