Sang Profokator
Sang
Profokator
Oleh: Umi Maghfiroh
Hari Sabtu, 21 Nopember kemarin, menjadi hari
yang luar biasa bagi saya. Berawal dari sebuah postingan tentang Webinar
Literasi yang diselenggarakan oleh PGRI Kabupaten Tulungagung, membuat saya
men-save the date. Mungkin bagi sebagian orang Webinar Literasi adalah
hal biasa, namun bagi saya Webinar kali ini sungguh luar biasa dan benar-benar
saya tunggu. Karena dalam Webinar itu menghadirkan seorang narasumber yang
benar-benar sangat membekas dibenak saya dan menjadi awal saya semakin percaya
diri untuk menulis. Adalah DR, Ngainun Naim, M.Ag, dosen IAIN Tulungagung, yang
sekarang berubah menjadi UIN Satu, menjadi daya magnet bagi saya. Pembawaannya
yang santai dan santun membuat setiap pertemuan Seminar ataupun Webinar menjadi
elegan dan gayeng. Beliau adalah seoraang literat yang sudah memproduksi banyak
buku dan profokator ulung dalam setiap kegiatan literasi. Beliau selalu
bisa mempengaruhi dan memotivasi para peserta disetiap kegiatan litersi untuk
mencoba menulis. Beliau juga salah satu dosen saya ketika kuliah, tiga tahun
yang lalu. Kesantaian dan kesantunan beliau membuat waktu kuliah tidak terasa
membosankan, terlebih saat beliau menceritakan pengalaman beliau yang seabrek
ketika menjadi pembicara pada seminar baik di dalam maupun luar kota, bahkan
diluar negeri. Juga pengalaman beliau saat bertemu dengan orang-orang yang
menurut beliau hebat—padahal menurut saya beliau adalah orang hebat—kemudian
beliau tuangkan dalam sebuah tulisan sangatlah menghipnotis kami dan menorehkan
semangat untuk belajar menulis.
Webinar dimulai pada pukul 10.00, karena ada
kegiatan di sekolah sejak pukul 8.00 maka saya bisa join meeting pada pukul
10.30. Seperti biasa, beliau selalu memotivasi para peserta Webinar. Beliau memaparkan
bahwa menulis itu tidak sulit apabila sebuah kebiasaan sudah terbentuk.
Kebiasaan bisa dibentuk kalau kita bisa memaksa diri kita untuk mau menulis.
Menulis apa saja! Itu yang selalu beliau katakan. Sebenarnya dalam hati saya
protes jika dikatakan bahwa menulis itu sesuatu yang mudah, karena untuk
merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang enak dibaca itu tidak
mudah! Ketik, baca, hapus, kemudian ketik lagi, baca lagi, hapus lagi . . . hal
ini sudah saya lakukan berkali-kali, sampai pada akhirnya saya menemukan keberanian
dan kepercayaan diri yang lebih—kalau youtuber bilang, Pede Boros-- ketika saya
ketemu Pak Ngainun Naim. Beliau
mengatakan, “Tulisan yang menurut kita biasa, bisa jadi akan menjadi luar biasa
bagi pembaca, tidak ada yang tahu itu”.
Cessss. . . kata semangat beliau
inilah yang menjadi pegangan saya saat mau menulis. Biarkan tulisan saya yang
akan menemukan pembacanya . . .
Saat sesi tanya jawab, saya mencoba mengorek
tips dari Pak Naim tentang bagaimana menjaga mood menulis yang timbul
tenggelam. Kenapa saya tanyakan itu, karena saat mood menulis saya datang, saya
bisa menulis satu cerpen sekali duduk, kurang lebih 7-8 halaman. Tapi saat mood menulis saya jelek,
meskipun di kepala sudah betumpuk ide maka tulisan itu tidak akan selesai,
misalkan dipaksapun maka akan berhenti di paragraph pertama atau kedua,
akhirnya save dan jadi drat yang tidak selesai.
Masih menurut pak Ngainun Naim, pengaruh untuk menulis itu ada dua,
eksternal dan internal. Yang biasa terjadi dan ampuh adalah faktor eksternal
(luar) contohnya deadline tugas yang bisa selesai dalam satu malam
--seperti yang kita lakukan saat masih kuliah, he he he!-- juga tantangan
menulis di gurusiana yang menulis nonstop, 30 hari, 60 hari, 90hari sampai 365
hari dan akan terjun bebas mulai dari awal kalau sampai terlewatkan walau satu
hari. Sedangkan faktor internal(dalam) yang beliau paparkan adalah
dorongan diri yang mewajibkan diri kita untuk menulis. Beliau mencontohkan
beliau sendiri, karena beliau seorang penulis maka beliau akan malu kalau
sampai tidak menulis. Kalau itu sih status quo pak, lha saya siapa, ndak
cocok saya yang ini pak. Yang pasti, belaiau berpesan, jangan sekali-kali
mengharapkan materi saat menulis, karena bisa jadi saat buku kita terbit kita merasa
puas dan berhenti menulis.
Webinar yang dipandu oleh moderator cantik
yang juga penggiat literasi di Tulungagung itu, Diana Kurniasari, berlalu
dengan begitu cepat. Begitulah, kalau kita menikmati kegiatan kita, waktu pasti
berlalu dengan sangat cepat. Alhamdulillah, ada keberuntungan saya di acara
tersebut. Sebuah buku sebagai reward, yang diberikan kepada peserta yang
mau bertanya. Diakhir Webinar nama saya disebut bersama lima peserta lainnya
yang berkesempatan mendapatkan buku tersebut. Syaratnya, kami harus
mengambilnya di gedung PGRI yang ada di Beji, Boyolangu. Ada
lima buku yang disiapkan untuk kami miliki. Karena buku Teraju karya pak
Ngainun Naim sudah saya koleksi—koleksi lo ya, jangan salah—maka saya memilih
sebuah buku yang ditulis oleh Prof. DR. Mujamil Qomar, M.Ag. yang bertajuk
Pemikiran Pengembangan Pendidikan Islam. Beliau adalah salah satu dosen terbaik
yang pernah mengajar saya ketika saya kuliah di STAIN Tulungagung, sebelum
menjadi IAIN, mungkin DR, Ngainun Naim juga. Alhamdulillah, buku setebal 358
itu sekarang menambah koleksi buku saya. Menulis memang tidak mudah, tapi bukan
berarti tidak mungkin kita lakukan. Ayo semangat, lakukan sekarang juga, karena
ribuan halaman itu berawal dari satu halaman, begitulah pesan dari pak DR. Ngainun
Naim. Semoga Alloh memudahkan langkah kita di jalan kebaikan, Aamiin . . . .

Komentar
Posting Komentar