Muhasabah diri

 @Parenting


Mendidik anak menjadi sosok yang luar biasa dibutuhkan juga ikhtiar yang luar biasa, juga  pengorbanan yang luar biasa. Tidak hanya materi, namun juga waktu, perhatian juga kasih sayang. Keberhasilan tersebut tidak bisa diembankan kepada satu elemen saja. Bagaimanapun kehidupan anak akan berubah sesuai masanya. Masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Masa depan mereka ditentukan oleh masa perkembangannya sedari mereka lahir. Tiga unsur yang saling berkaitan dan akan memberi pengaruh terhadap terbentuknya karakter anak adalah: 1). Rumah (Orang tua), 2) Sekolah (guru dan teman) dan 3) Lingkungan (tempat anak bersosialisasi). Ke tiga unsur itu tidak bisa dipisahkan, apabila satu sisinya terabaikan maka tujuannya tidak akan tercapai dengan maksimal. Karena kehidupan anak akan terbentuk melalui 3 unsur tersebut. Dan unsur pertamalah yang menjadi pusat kumparan pergerakan anak.

Menyiapkan anak menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi situasi modernisasi ini dibutuhkan strategi yang hebat. Teringat pada acara 'Parenting Day' di SDI Al Azhaar setahun yang lalu, yang dihadiri wali murid dan putranya, ada yang menenarik perhatian saya. Pada acara tersebut  rnenghadirkan Narasumber sekaligus motivator yang luar biasa, yakni Mr  Nafik Palil, dalam presentasinya beliau memaparkan cara mendidik anak menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ada 3 fase yang penting dalam kehidupan anak, dimana  orangtua harus bisa rnenempatkan posisi anak menurut umurnya (fasenya).

Fase 1. 7 thn pertama (0-7), perlakukan anak seperti raja. Fase ini mengkondisikan kita untuk mencurahkan segala kasih sayang dan memperlakukan anak seperti raja, sehingga anak merasa di sayangi dan diperhatikan demi menguatkan kepercayaan diri anak, juga mengokohkan pondasi dari dalam diri mereka. Anak yang mendapatkan curahan kasih sayang maka dia akan menjadi pribadi yang penyayang pula.  

Fase 2. 7 tahun ke dua (8-14),perlakukan anak seperti tawanan perang. Periode ini, anak akan menjadi sosok yang punya keingin tahuan tinggi, ingin mencoba semua hal, mendobrak segala aturan, merasa paling benar. Karena itulah kenapa orangtua memperlakukan anak seperti tawanan perang, mengawasi segala gerak geriknya, membatasi kebebasannya dengan memberi jadwal kegiatan yang harus diikuti. Sekali tawanan perang lepas, maka sulit untuk menangkapnya kembali. Fase inilah yang paling sulit dan paling menentukan.  

Fase 3. 7 tahun terakhir (15 - 21).perlakukan anak seperti sahabat. Di masa ini anak mulai beranjak dewasa, mereka membutuhkan tempat untuk  mencurahkan keluh kesahnya, mencari dukungan atas keputusan yang diambilnya.  Jangan biarkan mereka menemukan tempat curhat di luar rumah, karena segala kemungkinan buruk bisa terjadi, apabila si anak menemukan tempat curhat yang salah.  Orang tualah yang seyogyanya tahu atas kondisi anak baik suka maupun dukanya.

Pribadi yang baik didapatkan dari tauladan yang baik pula. Pembentukan karakter akan didapatkan dari keteladanan. Beberapa kasus membuktikan bahwa kepandaian intelektual tidak akan serta merta dibarengi dengan kepandaian emosional dan spiritual.

Mari kita selamatkan anak-anak kita dari kerusakan. Mereka adalah tanggung jawab kita. Mereka adalah sebuah titipan yang nanti akan dipertanyakan pemiliknya. bagaimana kita menjaganya. Semoga anak-anak kita diselamatkan dari segala keburukan, dan kita para orangtua selalu mendapatkan kemudahan dalam membimbing putra putrinya, Aamiin.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi