Meet and Greet
Meet and Greet
Ada cerita yang ingin saya sharing pada hari Sabtu kemarin. Saat saya mengambil buku hadiah dari Webinar PGRI. Saat itu, rasa penasaran akan buku dari pak Ngainun Naim, sosok yang menginspirasi banyak penulis, membawaku memacu motor ke arah selatan kota, Gedung PGRI di Boyolangu. Walaupun saya harus merasa sedikit kecewa karena ternyata buku pak Naim sebagai hadiah sudah saya punyai. Terajut, buku cetakan tahun 2017 saya dapatkan saat saya menjadi mahasiswanya. Sebagai gantinya adalah buku yang tak kalah keren karangan Prof. Mujamil Qomar yang saya pilih.
Hal itu tidak menjadikan saya sedih, karena ada kisah istimewa yang saya dapatkan di sana. Kisah ini berawal dari pertemuan saya dengan sang moderator cantik, dan juga seorang penggiat Literasi di Tulungagung. Sudah ada beberapa buku Antology, dan akan segera menerbitkan buku tunggalnya, Diana Kurniasari. Dari sisi usia Diana adalah adek kelas saya di MAN 1 dan di STAIN Tulungagung, tapi dari sisi keilmuan Diana jauh di atas saya. Kegiatannya yang bejibun membuatnya bisa bertemu dengan banyak orang dengan lintas profesi. Memang pengalaman adalah guru terbaik, itu yang bisa saya lihat dan ambil dari ceritanya.
Kami bercerita banyak hal. Ada beberapa kesamaan dari kami yang membuat kami semakin akrab. Ternyata motivator menulisnya sama, pak Ngainun Naim. Sedangkan putri pertamanya sedang berada dipondok, sama seperti kisahku. Dari sini cerita kami semakin asyik. Saya sangat kagum dengan kegigihan dan perjuangannya untuk maju. Kondisi yang sudah dibilang bagus dari segi finansial, serta merta ditinggalkannya demi mementingkan kebermanfaatan untuk sesama. Dan ternyata Alloh memberikan rizqi dari tempat yang tak di sangka, saat ada hambaNya yang berjuang di jalanNya. Prinsip ini didapatkan saat dia menjadi salah satu korban selamat pada sebuah kecelakaan tunggal beberapa waktu yang lalu. Sejak saat itu, dia bertekad untuk memanfaatkan sisa waktu yang dipunyai untuk menghambakan diri kepada Sang pencipta, menebar manfaat bagi sesamanya. Subhanalloh, Alloh punya caraNya sendiri untuk merangkul hamba yang dikasihiNya agar lebih dekat denganNya. Saya sangat memahami prinsipnya, karena sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi manusia lainnya.
Tak terasa kebersamaan kami sudah hampir 180 menit. Dan sayapun harus pamit karena di sana memang sedang berlangsung satu kegiatan. Rasanya tak nyaman kalau harus mengganggu waktunya. Banyak cerita dan hikmah yang bisa saya bawa pulang. Terima kasih untukmu sahabatku, Diana Kurniasari, atas hikmah yang telah engkau bagikan, semoga persahabatan ini membawa berkah bagi kita. . . Aamiin

Komentar
Posting Komentar