Lagi dan lagi


Entahlah. . . kali ke berapa kasus seperti itu terulang lagi dan lagi. Perilaku yang bisa di bilang "brutal" tersebut menunjukkan adanya 'kesalahan' dalam pendidikan. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggungjawab dari para guru yang ada disekolah, namun orangtua dan masyarakat juga ikut andil dalam pembentukan karakter anak. Pembentukan karakter tidak bisa dilakukan secara cepat seperti membalikkan sebuah tangan, namun harus dilakukan melalui proses yang tidaklah sebentar. Yang pasti proses ini dilakukan sejak dini, dengan kata lain orang tua memegang peranan penting dalam meletakkan dasar etika yang nantinya akan mempengaruhi anak di masa dewasa.
Tidak bisa dipungkiri, kemajuan zaman yang dibarengi dengan kemajuan teknologi membawa dampak yang amat besar bagi perkembangan anak-anak. Pengaruh media sosial yang dengan mudah diakses meninggalkan jejak nyata pada perilaku anak-anak. Life style yang bisa dibilang 'kurang pas' bagi adat ketimuran sudah tidak diindahkan lagi. Kondisi ini mengharuskan orangtua berjuang sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang seringkali mengikuti 'gengsi' dibandingkan kekuatan diri.
Kenyataa yang terjadi didaerah pinggiran, seperti tempat saya tinggal, banyak sekali orangtua yang mencari kebutuhan ekonomi dibelahan bumi yang lain, sehingga mereka meninggalkan anak-anaknya dan menitipkan pada kakek/ neneknya, paman/bibinya, bahkan ada yang hidup sendiri dengan saudaranya, yang terkadang demi memenuhi sebuah 'gengsi'.
Kondisi ini diperparah dengan lingkungan yang tidak kondusif. Kebebasan anak-anak tanpa pengawasan orangtua menjadi jurang terdalam yang bisa menjerumuskan mereka.
Kejadian yang sering terjadi yang mengambil setting dilingkungan sekolah membuat semua gemes dan geram. Apapun alasan yang melatar belakangi peristiwa tersebut tatap saja harus ada penanganan yang menimbulkan efek jera. Jangan sampai ada pembiaran yang bisa menjadikan terulangnya hal serupa. Jangan sampai pula "diam" nya berbagai pihak terkait menjadi isyarat pelegalan perbuatan tersebut, apalagi dalih 'anak dibawah umur'. Tanpa menunjukkan hukum sebab akibat niscaya 'pembelajaran' adalah sebuah kesia-sian belaka.
Guru sebagai "tongkat estafet" pendidikan acapkali berhadapan dengan dilema. Karena seringkali perkataan dan teguran tidak menjadi efektif lagi dalam menegakkan aturan yang ada. Sebagai akibat dari kekhilafan yang mereka lakukan agar tidak terulang hal sama dengan meminta mereka untuk membersihkan kamar mandi, membersihkan ruang guru, membantu petugas kebersihan untuk mengambil sampah, dll. Kalaupun akan mengambil tindakan lebih, guru harus berfikir ulang terlebih dahulu kalau tidak maka akan berhadapan dengan Komisi HAM.
Tak perlu bertanya siapa yang salah dan benar. Keadaan sekarang mengharuskan adanya kerjasama yang baik dan solid antara semua lini demi kebaikan generasi muda kita. Tidak mungkin tanggung jawab sebesar itu dibebankan oleh satu pihak.
Saya yakin semua sudah melakukan yang
terbaik
.
Kedepannya kita harus lebih baik lagi, karena setiap kebaikan tidak akan dibalas kecuali dengan kebaikan pula. . .
Jangan lupa berdo'a, semoga hidayah segera datang pada kita semua, karena Dia Maha Pengasih dan Penyayang juga Maha Mengabulkan segala do'a. . . aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi