Kapan Berakhir?

T


Tak terasa 8 hari sudah berlalu. . . ada rasa yang tiba-tiba menggelitik hati ini, rasa kangen. . . kangen dengan celoteh anak-anak, kangen dengan panggilan manja mereka, kangen dengan tatapan bingung mereka saat jawaban masih salah, pun kangen dengan senyum keceriaan saat bisa menjawab soal dengan benar, sungguh. . . tanpa tersadari, keberadaan mereka menjadi mood booster kami dalam menjalani hari. Ditambah beban materi yang belum tersempurnakan, padahal waktu terus berjalan. . .

Lockdown, yang harusnya akan berakhir di ujung bulan ini, ternyata di undur sampai bulan April, membawa dampak yang luar biasa. Walaupun dijaman yang serba digital dengan fasilitas yang serba canggih, peran 'face to face' tidak akan pernah tergantikan. Google atau informasi digital apapun tidak akan bisa menggantikan kedekatan emosi antara guru dan peserta didik. Bukan kecerdasan Intelligence yang membuat mereka unggul nantinya di masyarakat, bukan. . . . tapi karakter dan sikaplah yang akan berperan dalam suksesnya kehidupan. Bukti sudah banyak sekali menunjukkan hal itu. Kecerdasan Intelektual tanpa dibarengi kecerdasan emotional adalah sebuah petaka.
Dalam interaksi disekolah, ada pelajaran untuk mengalah, bersabar, mendengar, tepo seliro, gotong royong, berbagi, disiplin dan masih banyak lagi yang tidak bisa didapatkan saat mereka tidak disekolah. Hal itu yang nantinya akan sangat berguna saat mereka terjun dimasyarakat.
Yang lebih tidak nyaman dengan Lockdown ini sepertinya ibu-ibu yang harus bekerja extra untuk mendampingi putra putrinya belajar dirumah. Berbagai cerita tentang pendampingan orangtua saat ananda belajar dirumah membuat kami tersenyum. Sudah terbukti bahwa mengajar itu tugas yang tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan. Bisa dibayangkan bagaimana bapak/guru mengajar di kelas berhadapan dengan 30 anak yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda.
Ditambah lagi curhatan anak-anak lewat WA yang mengatakan lebih enak masuk sekolah daripada libur, karena dalam liburan tugas yang diberikan bapak/ibu guru menumpuk. Juga harus berhadapan dengan orangtua yang terkadang 'ngegas' saat menemani belajar. Tidak bisa disalahkan sih sebenarnya, karena orangtua harus berbagi fikiran antara tugas rumah, tugas kerja dan sekarang ditambah lagi harus menjadi 'guru' untuk sementara waktu. . .
Semoga semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, dan semua menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi permasalahan, khususnya dalam pendidikan. Pendidik, juga manusia yang punya masalah, walaupun dalam hal ini guru dituntut untuk bisa mengesampingkannya ketika berhadapan dengan peserta didik.
Semoga Alloh selalu melindungi kita semua dari segala keburukan, dan menyegerakan IrodahNya, Aamin. .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi