GUNDAHKU

 Gundahku. . . . .

Saya adalah seorang ibu dengan 2 putri. Saya dibesarkan oleh ayah yang seorang PNS, sedangkan ibu adalah ibu rumahtangga yang memiliki keahlian yang tidak banyak orang menguasainya, menjahit baju. Tentu saja pekerjaan ini membuat beliau selalu berada di rumah. Beliau selalu ada disaat kami membutuhkan. Petuahnya selalu menyertai saat kami membuat beliau marah namun kasih sayangnya lebih besar dari pada amarah beliau, dan dengan itu semua maka seperti inilah saya, semoga Allah selalu memberkahi beliau berdua, aamiin. ..
Saat saya masih skolah sampai kuliyah, sudah terbiasa melihat ayah yang berangkat pagi jam 07.00 dan pulang jam 14.00 setiap hari. Saat itu, terbersit dibenakku, alangkah enaknya jadi seorang pegawai seperti ayahku. Setelah sampai rumah, ganti baju, makan siang trus istirahat. Di malam harinya bercengkerama dengan istri dan anak-anaknya. Begitulah ritme kehidupan beliau sehari-hari.
Salah satu kebiasaan keluarga kami, dan mungkin keluarga umumnya pada masa itu adalah kumpul bareng di ruang tamu, mengerjakan PR skolah ditemani oleh ayah dan ibu. Terakam dengan sangat rapi peristiwa tersebut. Gurau canda yang disertai tawa bahagia tercipta karena armosfir cinta kasih yang murni tanpa ada distorsi yang berarti.
Saat ini, saya adalah seorang ibu sekaligus PNS yang berbeda sama sekali dengan kehidupan masa ayah saya. Berangkat kerja terkadang jam 6 sudah harus berada di sekolah karena muridku sudah menungguku, dan pulang jam 14.30-15.00 tergantung harinya, itupun masih ditambah dengan setumpuk tugas yang tidak bisa diselesaikan ditempat kerja.
Dulu saat jadwal kerja belum seperti sekarang alias masih agak longgar, pernah terbersit rasa bersalah dalam hati karena pulang agak siang, waktu itu jam 13.00. Juga protes anak terkecilku yang sering bilang kok ibu jarang dolan bareng sama mereka,libur juga kadang masih masuk sekolah, selalu dititipkan bulek kalau dolan. Sesak dada ini saat mendengar keluhan mereka. Andai mereka tahu bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebuah tuntutan atas apa yang telah diberikan kepada saya yang biasa disebut 'gaji dan tunjangan'. Sudah rumus dunia memang, kalau semakin besar gaji yang kita terima maka resiko dan tanggung jawab yang kita emban pastilah juga besar dan berat. Betapa tidak! Akibat dari menyeimbangkan antara hak dan kewajiban tersebut saya merasa ada "missing link". Peran seorang ibu jadi menyempit. Ibu yang seharusnya menjadi tokoh central atas perkembangan anak-anaknya tergantikan oleh seorang assisten. Keterikatan batin anak dan ibu memudar seiring kesibukan ibu diluar rumah. Berat rasanya membimbing anak-anak di tengah kepungan budaya western dan kecanggihan tehnologi.
Jujur saya ngeri membaca dan mendengar perilaku kids zaman now, istilah kerennya dalam menyebutkan anak-anak muda sekarang. Semangat berjuang yang seharusnya ada dalam jiwa generasi millenial semakin terkikis oleh instan_isme. Fasilitas yang tersedia sekarang sedikit melunturkan samangat sebagian anak-anak untuk berjuang.
Serasa jauh berbeda keadaanya dengan zaman saya dahulu. Perilaku, adat, tata kesopanan, semangat berusaha dan keuletan dari kids zaman now terasa berkurang. Pun kemampuan dalam memecahkan masalah, mereka tidak setangguh jaman saya dulu. Diakui atau tidak, telah terjadi pergeseran mindset pada generasi muda kita. Dan ini yang sangat mengkawatirkan saya. . .
Bukankah kokohnya sebuah negara apabila didukung oleh kuatnya bagian terkecil dari negara itu sendiri, yakni keluarga. Bisa dibayangkan, apabila keluarga Indonesia sudah saling tidak peduli dengan anggotanya. Jadwal sehari-hari yang memaksa para keluarga berpisah dipagi hari berkumpul lagi disore harinya dalam keadaan capek fisik dan psikis. Tentu saja hal ini akan mudah memicu gesekan diantara mereka. Orangtua akan kehilangan kesabarannya saat bebicara dengan buah hatinya, suami istripun jarang ngobrol bersama karena tugas kerja yang tiada habisnya menuntut untuk diselesaikan keesokan harinya. Bisa dibayangkan seperti apa suasana rumah. . . .
Semoga gundah ini terbayar nantinya dengan keberhasilan anak-anak kita. Kalau tangan dan mulut manusia tidak bisa bekerja maka Tangan Tuhanlah senjata terampuh paripurna yang akan turun melalui do'a kita, aamiin. . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi