Anak zaman…

 


Mungkin dari judul tulisan saya ini, pembaca sudah mengetahui isinya. Begitulah kekuatan sebuah judul. Bisa membantu pembaca untuk mengetahui bahasan dari sebuah tulisan atau bahkan bisa membuat pembaca penasaran. Apapun itu, judul sepertinya penting bagi penulis juga pembaca. Saya tidak akan membahas tentang judul karena bukan wilayah saya.

Saya ingin berbagi pengalaman yang terjadi kepada saya. Semoga bisa diambil hikmahnya. Kita tahu bahwa pelajaran bahasa jawa menjadi mata pelajaran yang sudah lama diajarkan. Pada jaman saya MI (setingkat SD), mata pelajaran ini menjadi satu pelajaran yang mengasyikkan. Kami diminta menghafal nama-nama anak dari binatang, menghafal nama-nama bunga dari tumbuhan sehingga kami jadi mengetahui banyak hal. Yang mengasyikkan dan membuat kami tertawa adalah saat kami menemukan sebutan yang terdengar lucu, seperti anak gajah, bleduk,anak jaran, belo, kembang duren, dlongop, kembang tebu gleges, ada urutan silsilah cucu ke atas, cicit, udek-udek, siwur dan masih banyak lagi sebutan yang membuat kami tertawa bersama. (ma’af bagi yang tidak mengerti bahasa jawa). Dan satu lagi yang membuat senang dengan pelajaran bahasa jawa adalah karena Mbah Imam, ya . . . kami memanggilnya mbah karena usianya yang sudah sepuh. Beliau sangat sabar mengajari kami. Meskipun saat mengajar, kami lebih sering tertawa karena ada hal yang lucu, beliau tidak marah. Di akhir pelajaran, biasanya beliau memberi  bedek an tentang nama-nama binatang atau bunga, pasti itu. Bagi siapa yang bisa menjawab maka boleh pulang duluan. Jarang sekali saya bisa pulang duluan, karena kalah cepet dengan teman-teman. Sebagai senjata pamungkas saya membuka buku ajaib yang legendaris dan turun menurun, Sapala. (mungkin ini jadi buku wajib saat itu) Buku yang bisa menjawab semua pertanyaan tentang per-Jawaan

Kemarin, pada saat penerimaan rapot PTS, putri kecil kami, Callysta. Sesampainya dirumah saya dan suami membuka laporan hasil belajar tengah semester tersebut bersama-sama. Tertera di kertas tersebut,  nilai terendah ada pada bahasa Jawa, 64 dengan predikat D. K ami saling memandang dan tersenyum. Tidak menjadi masalah bagi kami, wong membaca tulisan jawa saja dia tidak bisa dan terdengar aneh. Bukan bermaksud meremehkan bahasa Jawa. Bagi kami hal itu wajar. Karena nilai pada mata pelajaran lainnya bagus, dan kami bangga kepadanya.

Kami tidak mengungkit lagi hasil nilai bahasa Jawa tersebut. Karena saat suami menayakan kepadanya, dia menjawab “Sulit lo yah, bahasa Jawa ki, aku banyak yang nggak tau maksudnya”. Dalam hati saya berkata, gimana mau menjawab soal kalau maksudnya saja tidak ngerti!. Tapi sungguh, bahasa jawa adalah salah satu bahasa yang sulit menurut saya. ada pekem yang harus diikuti saat berbahasa Jawa. Sebagai contoh, kata ‘saya’ dalam bahasa jawa ada tingkatannya: 1. Aku (ngoko) digunakan untuk teman sebaya, 2. Sampean, (kromo madya) diguna untuk orang yang sedikit lebih tua, misalkan: adek pada kakanya, 3. Panjenengan,(kromo inggil) digunakan untuk mereka yang lebih tua atau yang dihormati, seperti: kepada orang tua, guru, kakek /nenek. Bandingkan dengan bahasa Inggris atau Indonesia. Tidak ada tingkatan yang menjadikannya harus memilah dalam penggunaannya. Bisa dimaklumi kenapa bahasa Jawa menjadi sulit diterapkan tanpa pembiasaan sejak dini. Sebagai contoh adalah anak saya. Mereka masih belum bisa menggunakan bahasa Jawa sesuai tempatnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya mereka menggunakan bahasa Indonesia, sambil sesekali saya sisipkan bahasa Jawa.

Pada kondisi seperti ini, dimana pembelajaran daring harus dilakukan, membuat komunikasi intens dilakukan melalui pesan elektronik. Saya menemui banyak kasus (mungkin pembaca juga) pada saat anak-anak berkomunikasi dengan Bapak/Ibu guru. Mereka  menggunakan bahasa tulis yang kurang pas. Mereka belum bisa membedakan bagaimana harus bersikap kepada Bapak/Ibu gurunya dan kepada temannya. Kata “oyi”, “yy” untuk menggantikan kata “iya” beberapa kali saya dapatkan saat berkomunikasi melalui WA. Kemudian ungkapan, “peh bu, jo akeh-akeh to tugase, atau tugas eneh  mblenger aku bu ” terlontar saat menerima tugas. Saya bisa memahami maksud mereka, namun saat dinilai dari sudut etika budaya jawa, sepertinya itu kurang sesuai. Bahasa tersebut sepantasnya digunakan kepada teman sebaya, bukan kepada gurunya. Meski sudah diingatkan berulang kali namun akan kembali semula.Mungkin karena terbiasa chatting dengan temannya bukan gurunya (berusaha positive thinking saja biar ndak nambahi beban). Atau mungkin mereka bermaksud ingin berteman dengan gurunya?

Entahlah, bagaimana harus menyikapi hal itu, saya pun juga bingung. Atau memang begitukah aturan zaman? Selalu ada pergeseran disetiap masanya. Mereka memang anak zaman, tentu saja bersikap sesuai zamannya, meskipun tidak semuanya. Hanya bisa berdo’a semoga mereka akan menyadari semua pada masanya, saat ini, cukup pahami saja . . .

Inilah salah satu alasan (menurut saya pribadi) kenapa pembelajarn tatap muka tidak bisa digantikan dengan pembelajaran daring. Karena kasih sayang dan empati tidak bisa dikirim melalui jaringan internet. Semoga semua cepat berjalan normal kembali. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi