Hari ke 9. Sama tapi beda . . .

 


Saya adalah ibu dari dua putri yang luar biasa. Kakak Zilla, begitu saya biasa memanggilnya, sekarang sedang belajar di Pondok Pesantren An Najach Putri, Tambak beras, Jombang. Saat ini dia sekolah di MTsN 3 Jombang,  kelas 8. Si kecil, adek Icha, sekarang duduk di kelas 4, SDIQu AL Bahjah, Karangrejo, Tulungagung. Mereka lahir pada situasi yang berbeda. Si sulung lahir saat kami berjuang dari nol. Ketika itu, saya seorang guru GTT (Guru Tidak Tetap) yang mengabdi pada MTsn Karangrejo. sejak tahun 2003. Tahun 2006, setahun setelah kami menikah, dia lahir. Alhamdulillah, Alloh langsung mempercayakan titipan kepada kami, yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya. Dia anak yang cerdas, keras dan tidak mudah menyerah. Kala itu, belum genap 11 bulan sudah bisa berjalan. Teringat saat dia berumur 3 tahun, mencoba naik sepeda kecil punya tetangga, seketika itu dia berhasil memutari halaman rumahnya yang luas. Terharu saya melihat kegigihannya untuk bisa menaiki sepeda tersebut. Kami tersadar, dia anak yang luar biasa, dan kami harus menjaganya. Mungkin kegigihannya berasal dari keberadaan kami yang saat itu harus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuknya. 

Di tahun 2009, adeknya lahir. Keadaan kami sudah lebih baik secara ekonomi. Ternyata itu mempengaruhi karakter si kecil. Dia anak yang tenang, santai dan focus. Berbeda dengan kakaknya yang “cepat belajar” namun ingatannya kurang setia,  adeknya lebih sabar dalam mempelajari sesuatu, sehingga ingatannya lebih setia. Si adek bisa berjalan di usia 16 bulan, belajar sepeda setelah kelas 1 SD, sangat berbeda dengan si kakak. Subhanalloh . . . Alloh menunjukkan kepada kami bahwa setiap manusia diciptakan dengan keistimewaannya. Kami harus terus belajar memahami ke  duanya, dengan keistimewaan yang berbeda. Memperlakukan dengan beda sesuai karakter masing-masing. Kakak yang keras, lebih tangguh saat diajak berdiskusi. Si adek lebih lemah lembut dan berperasaan sehingga tidak bisa menerima kata “tidak” jika tidak disertai alasan yang logis. Begitulah mereka, dua permata hati yang mampu membuat kami terharu dan bangga atas kehadirannya. Mereka sama, tapi berbeda!

Saya yakin, semua orangtua pasti merasakan hal yang sama seperti saya. Meskipun anak-anak dilahirkan dari rahim yang sama, tapi mereka tetap berbeda. Jadi jangan pernah membuat mereka “sama”, karena mereka memang benar-benar berbeda. Belajar memahami perbedaan yang ada. Sebuah pelajaran dari Tuhan, supaya kita sadar bahwa perbedaan akan terus ada, kapanpun dan dimanapun. Karena kita lahir dari dua hal yang berbeda . . .

Semoga Alloh selalu menjaga anak-anak kita dimanapun berada, dimudahkan yang sulit, dan dilancarkan yang mudah . . . aamiin.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi