Hari ke 13. Haruku . . .

 


Senin, tanggal 19 menjadi hari yang luar biasa bagi saya. Setelah sholat subuh, seperti biasa, saya nyalakan handphone, melihat pesan yang masuk, karena terkadang pengumuman penting dikirim saat larut malam bahkan dini hari. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk mematikan HP saat hendak membaringkan badan di tempat tidur. Katanya sih biar awet batterenya, benar tidaknya saya tidak tahu. Tapi Alhamdulillah, masih tetap awet sampai sekarang. Begitu saya nyalakan handphone, terlihat  ada sebuah pesan masuk dari putri sulungku yang membuat terisak tanpa bisa saya tahan.

Maafin Zila mah kalau selama 14thn belum bisa ngebahagiain mamah sm ayah. Yang Zila bisa banya menyusahkan kalian berdua. Zila tau Zila punya banyak kekurangan, tapi Zila ttp berusaha yg terbaik untuk kalian berdua, ayah sm mamah. Zila yakin besok atau kedepannya Zila pasti bisa ngebahagiain mamah sm ayah. Zila yakin itu.

Yg Zila pengen cuman do'a dari kalian berdua. Do'a kalianlah yang bisa menyelamatkan dan membuat Zila terus semangat sampai detik ini. Zila sayang sm mamah sm ayah. Sayangggg banget mah. .

Zila harap mamah sm ayah sehat selalu. Untuk bisa menyertakan do'a² kalian selalu untuk Zila”.

Sungguh, berderai airmata ini saat membaca pesan WA dari anakku, Zilla. Tak pernah menyangka, anakku sudah besar. Kejujuran dan ketulusannya bisa saya rasakan. Saat ini anakku, Zilla memang di rumah. Jum’at tanggal 16 kemarin dia dijemput ayahnya karena sakit. Badannya panas, dan sempat mengeluh tidak bisa mencium apapun sebelumnya. Karena kami khawatir, maka kami putuskan untuk menjemputnya, tentu saja setelah berdiskusi dengan pengasuh pondoknya. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan sudah kembali ke pondok. Hari Ahad kemarin diantar ayahnya kembali dengan membawa surat keterangan sehat juga keterangan Non Reaktive  hasil dari rapid test hari sebelimnya. Itu wajib.

Berawal dari tulisan di hari ke 6, tanggal 18 Oktober yang berjudul “Untuk Anakku” saya kirimkan kepadanya melalui pesan WA.  Saya  bermaksud memotivasinya agar semangat untuk terus menulis  karena saya pernah melihatnya menulis diary dan cerita. Dia juga memiliki blog yang dibuatnya saat dia duduk di kelas 6. Sungguh diluar dugaan! Ternyata tulisan yang saya bagikan kepadanya melalui WA membuatnya bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi. Sejak saat itu, setiap pagi dia selalu memeluk dan mencium saya sambil berkata, “I love you mah”, dan lebih perhatian  dengan apapun yang saya perbuat. Yaa Alloh,. . . terima kasih telah mempercayakan kepada kami, anak yang hebat dan luar biasa. Bantu kami untuk terus bisa menjaganya. Semoga engkau menjadi anak sukses seperti impianmu. . . aamiin.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Tambahan

Waktu

Tholabul 'Ilmi